Powered By Blogger

Sabtu, 06 Februari 2010

Antara Dialektika Negara dan Kebudayaan

”Kebudayaan bukan semata-mata warisan (Heritage) yang sah dari suatu masyarakat, karena Kebudayaan adalah seni hidup itu sendiri (the art of living)” -Gus Dur-

Tengara Gus Dur ini, serasa mengingatkan kembali betapa vitalnya isu kebudayaan ditengah berkecambuknya krisis pemikiran yang melanda kehidupan berbangsa dewasa ini. Ucapan Gus Dur ini dikemukakan kala menyinggung peran Negara terhadap keberlangsungan budaya bangsa. Memang terlihat tiada yang salah dari langkah yang ditempuh negara sebagai institusi tertinggi guna menentukan keputusan-keputusan operasional terkait kehidupan berbudaya bangsa ini. Namun, dari titik ini Gus Dur melihat pertentangan yang cukup memprihatinkan. Pada dasarnya kebudayaan merupakan kehidupan sosial bermasyarakat yang tumbuh dari saling adanya interaksi antar komponen dan elemen yang ada, meskipun demikian, kebudayaan bukan suatu harta untuk diwariskan (heritage) kepada generasi selanjutnya, karena warisan pada hakekatnya mengacu kepada suatu benda mati, sedangkan kebudayaan hanya menjadi kebudayaan kalau ia hidup dan mengacu kepada kehidupan.
Karena itu, mendengar adanya peran signifikan Negara dalam mensponsori keberlangsungan kebudayaan negeri ini. Penulis pun merasa ada kecacatan akan hal ini, kebudayaan sepatutnya dan selayaknya tidak menjadi political gimmick suatu badan depertemen pemerintahan tertentu, padahal kebudayaan tidak bisa ditafsirkan sepihak untuk semata-mata memberikan tekanan pada kesenian, kesusastraan, bahasa, dan apa saja yang memihak estetika sebagai estika belaka.
Karena pada hakekatnya Kesenian dan karya sastra sebagai karya estetika demi membersihkan nurani suatu masyarakat (katarsis sosial dan politik) dan menjadi wahana mengakomodasi perubahan kultural adalah bagian dari kultur. Demikian pula halnya dengan bahasa, sebagai alat berfikir adalah bagian dari kultur, tetapi, bahasa yang dilihat hanya sekedar sebagai technically yang memberikan peluang bagi penentu ”policy bahasa” adalah proses birokratisasi alat berfikir. Proses bahasa yang demikian adalah akultural.
Kemudian dimana letak kekhawtiran Gus Dur terhadap peran Negara menyangkut kehidupan berbudaya. Jikalau kita mau memandang hal ini secara tajam dan telaah kajian komprehensif-integratif maka dapat tergambarkan bahwa birokratisasi cenderung menyeragamkan derap kehidupan masyarakat, dan ini indikator adanya kecenderungan untuk mengubah kebudayaan dari emansipasi suatu bangsa kepada pembekuan daya cipta bangsa itu sendiri yang sedang berada ditengah perubahan besar-besaran secara sosial dan ekonomi. Sejauh yang menyangkut kehidupan bernegara (statecraft) seluruh kehidupan sebenarnya sudah dikuasai oleh negara sepenuhnya.
Di dalam cara melihat yang membedakan atau mempertentangkan antara negara dan masyarakat, maka kultur adalah sepenuhnya menjadi tanggungjawaab suatu masyarakat dan selayaknya tidak menjadi wewenang negara sebagaimana saat ini, kebudayaan diletakkan dipundak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Cara memandang seperti ini tidak bisa tidak harus dianut, karena adanya perbedaan mendasar dalam daya perekat masyarakat dan negara. Masyarakat mengambil kultur sebagai daya perekatnya sedangkan negara mengambil kekuasaan sebagai daya perekatnya dan dengan kekuasaan pula negara mengikat berbagai bidang lainnya.
Dalam hubungan ini kebudayaan terlalu besar, terlalu penting, dan terlalu hakiki untuk dipikul beban tanggungjawab kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata semata. Kultur seharusnya menjadi tugas utama masyarakat untuk memperkuat sendi dan pilar tatanan kehidupan masyarakat tersebut. jika hal ini teracuhkan dalam kesadaran berbudaya bangsa ini, maka gaung pencerahan (enlightement) terasa bak fatamorgana ditengah gersangnya pemikiran budaya bangsa ini dan proses stultifikasi (proses pembekuaan) pun menggurita nan merajalela, dimana manusia Indonesia tidak dididik untuk pemenuhan kepribadiaanya, namun dididik menjadi robot-robot yang a-kultural, terkikis dari dasar-dasar untuk menjadi pribadi yang berkultural. Pada akhirnya hanya akan menghasilkan ”kebudayaan semu” yang tidak bakal langgeng.

Jumat, 15 Januari 2010

kuis kebahagiaan

Kebanyakan dari kita ternyata diam-diam suka mengisi kuis-kuis, baik itu kuis tentang kehidupan percintaan, keuangan, maupun tentang pilihan liburan yang kehidupan paling menyenangkan. Inilah kuis tentang kebahagiaan yang saya buat untuk anda. Saya telah mengujicobakan kuis ini pada beberapa patner saya dan kebanyakan hasilnya seperti yang saya perlukan, karena pertanyaan-pertanyaan menyangkut seluruh aspek kita.
Dengan mengisi kuis ini, anda tidak hanya akan mendapatkan ide yang lebih baik tentang bagaimana bahagia dan tidak bahagianya anda, tetapi anda juga akan menemukan bagian mana dari kehidupan anda yang paling bermasalah.
Beberapa bagian dari kuis ini mungkin tidak sesuai dengan anda. Sebagai contoh, anda mungkin tidak mempunyai anak atau saudara-saudara, sementara orang lain yang membaca kuis ini mempunyai keduanya. Tetapi itu tidak menjadi masalah, jawab saja seluruh pertanyaan yang anda bisa dengan memberi tanda pada salah satu dari tiga pilihan jawaban, yaitu tidak pernah, kadang-kadang, atau sering.


Tabel 1 : Kuis Tentang Kebahagiaan

No. Bagian (a) Suasana Hati secara umum Tidak Pernah Kadang-kadang Sering
1. Apakah Anda merasa tidak bahagia?
2. Apakah Anda merasa bahwa hidup berlalu begitu saja meninggalkan anda?
3. Apakah Anda merasa bahwa hidup ini tidak adil bagi Anda?
4. Apakah Anda merasa bahwa hidup terlalu banyak membutuhkan usaha?
5. Apakah Anda merasa tidak mempunyai kemampuan untuk merasakan sesuatu, baik itu bahagia atau tidak bahagia?
6. Apakah anda merasakan persaan putus asa?
7. Apakah Anda pernah merasa bahwa orang-orang disekitar anda akan menjadi lebih baik jika anda tiada?
8. Apakah anda merasa untuk meniadakan diri anda sendiri ditengah hiruk-pikuk kehidupan anda?
9. Apakah anda bosan dari kehidupan anda?
10. Apakah cuaca buruk membuat hati anda gundah?
11. Apakah anda pernah berfikir akan mengalami depresi berat atas permasalahan yang sedang anda hadapi?
12. Apakah anda banyak menghabiskan waktu sendirian?
13. Apakah anda lebih senang berkomunikasi melalui internet, telpon, dibandingkan bertatap muka secara langsung?
14. Apakah anda sulit mengendalikan emosi dan amarah anda?
15. Apakah anda mudah tersinggung?
16. Apakah anda sulit untuk berkonsentrasi?
17. Apakah anda mudah panik?
18. Apakah tidur anda selama ini tidak nyenyak?
19. Apakah anda perokok berat?
20. Apakah anda terlalu banyak tidur namun sedikit aktivitas?
Sekarang bila anda telah menyelesaikan mengisi kuis ini, saya sarankan anda untuk merenggangkan tubuh anda, sembari menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Karena anda telah mencoba jujur terhadap kondisi diri anda sendiri yang selama ini mungkin anda tutupi didepan pergaulan anda.
Saya bisa berkata bahwa inilah wajah sebenarnya dari diri anda (jika anda jujur mengisinya) yang selama ini tertutupi oleh perasaan anda. Baiklah, bila anda sudah siap, saya ingin anda melakukan satu hal sebelum kita bersama melanjutkan untuk melihat pada tanggapan anda. Saya ingin membaca sekilas mengenai penilaian anda terhadap kuis ini.
Tentang bagaimana anda merasa dan bagaimana anda kelihatan di mata orang lain. Dan jika anda menjawab”sering” pada sejumlah pertanyaan kuis ini, anda bukan hanya tidak terpuaskan, tetapi juga menunjukan gambaran yang buruk tentang diri anda sendiri pada rekan-rekan kerja, teman-teman, maupun keluarga anda.
Sebenarnya jika anda menjawan ”sering” pada pertanyaan 7,8 dan 15 anda mungkin memerlukan sedikit bantuan daripada yang dapat saya berikan sendiri pada anda. Jawaban anda mengambarkan anda sedang mengalami depresi, meskipun demikian, saya tetap yakin bahwa anda nantinya mampu mngubah kondisi kejiwaan anda. Dengan sedikit kemauan dari diri anda sendiri. Akan tetapi, mayoritas dari orang depresi sebenarnya tidak sakit (dari kacamata medis) melainkan perasaan manusiawi dari psikologi manausia yang membutuhkan sebuah makna dari kebahagiaan.
Saya akan memberikan beberapa hal penting mengenai fakta tentang kebahagiaan.
• Kebahagiaan merupakan sesuatu yang bisa kita usahakan.
• Kebahagiaan merupakan suatu keterampilan
• Kebahagiaan bisa menjadi suatu kebiasaan.
• Kebahagiaan seringkali merupakan sebuah pilihan.
• Kebahagian muncul dari andanya rasa tanggungjawab atas hidup kita.
• Kita bertanggung jawab untuk memperoleh kebahagiaan.
• Kebahagiaan bisa mempengaruhi orang lain.
• Kebahagiaan membuat anda tampak lebih muda.
• Kebahagiaan membuat anda tampak lebih menarik.

Rabu, 13 Januari 2010

Cerminan Diri

“Engkau Menanam Pohon, Tapi tak Mengajak tanah.
Engkau Menanam Pohon, Tapi tak Menagjak Air.
Engkau Menanam Pohon, Tapi tak Mengajak Musim.
Engkau Menanam Pohon, Tapi tak Mengajak Pohon.
Engkau Hanya Menanam, Dirimu Sendiri”
(Mustofa W. Hasyim)

Pekerjaan yang paling digemari oleh bangsa Indonesia saat ini adalah berbicara, sekaligus yang tidak suka dilakukan adalah bercermin. Setiap orang boleh setuju dan boleh juga tidak setuju dengan pernyataan itu. Namun, saya memiliki argumentasi yang, paling tidak dapat kita diskusikan sebagai bahan intropeksi diri.
Bercermin punya makan jamak tidak tunggal. Secara fisik, berarti membuat orang ”tahu rupa diri” apakah dia bersih atau kotor, sudah rapi atau masih kusut, apakah tampilannya sudah oke atau belum. Pendek kata, dengan bercermin, seseorang akan tampak tampan, anggun, kelihatan elok rupawan.
Namun, bercermin juga punya arti maknawi, yang jauh lebih dalam dari sekedar tahu rupa diri. Dalam pemahaman ini, bercermin membuat orang ”tahu diri” baik secara fisik maupun nonfisik. Seperti ungkapan orang Sumbawa ”to diri” tahu diri sangat bermakna dalam. Orang Jawa bilang ”kulo niki sinten” saya ini siapa. Dan, inilah sesungguhnya yang sulit dilakukan oleh tiap manusia, masyarakat, maupun pribadi yanitu menjadi orang yang tahu diri.
Dalam wilayah demokrasi, kita kerap tak butuh pemimpin besar, melainkan cukup orang tahu diri. Jangan heran ketika Nelson Mandela berhenti menjadi presiden ketika punya pesaing berarti. Ia tahu diri, mengakhiri kekuasaan yang bisa dibikin panjang, bahkan mungkin sampai ajalnya, tapi ia tunduk pada kepentingan yang lebih besar, mengembangkan demokrasi di Afrika Selatan.
Atau banyak deretan kisah lain yang menjadi teladan demokrasi. Richard Nixon tahu diri, ia mundur sebelum di-impeach kongres AS karena skandal Water Gate yang memalukan. Atas nama demokrasi, Corry Aquino merasa cukup menjadi presiden Filipina satu periode jabatan. Ia bahkan aktif memasukan satu periode jabatan presiden dalam konstitusi negaranya. Contoh lain Mahathir Muhammad, tokohnya pembaharu Malaysia, berhenti diujung senja jabatannya sebagai perdana menteri Malaysia, karena ia tahu diri. Hal serupa juga dilakukan oleh Lee Kwen Yew dari Singapura, negeri tetangga kita.
Di Indonesia, teramat langkanya, orang-orang tahu diri kerap membuat kita terharu. Begitulah Mohammad Hatta, kembali memory kita terulang dimasa nan silam dengan takzim ketika mundur dan mengakhiri dwitunggal Soekarno-Hatta, yang mengrogoti penyakit keserakahan Soekarno. Prof. Harun Al, Rasyid membuat kita lega ketika berhenti dari wakil Ketua KPU di saat banyak koleganya disana terlelap dan ter-ninabobo-kan oleh kubangan lumpur korupsi.
Dan, Soeharto gagal menjadi orang besar, antara lain karena ia tak tahu diri. Ia diakui dunia sebagai politisi piawai yang pandai membuat kekuasaannya bernafas panjang, tetapi terjerambah di penghujung masa jabatannya. Karena ia tak tahu diri, ia salah Kalkulasi kapan seharusnya berhenti.
Lalu, siapakah orang-orang yang tahu diri itu? Buat saya adalah mereka yang ”punya cermin” dan ”bisa bercermin”. Ia pun bisa menakar kapasitas dan otentitas dirinya. Neraca cermin inilah yang dijadikan bingkai dalam tiap perangai dan lakunya. Orang tahu diri, sangat memahami bahwa seorang besar bukan karena berkuasa tetapi karena bisa membuat kekuasaan sebagai perkara kecil dan biasa.

Senin, 11 Januari 2010

kehidupan jurnalis

Betapa seringnya kita mendengar pepatah yang mengatakan ‘Waktu Adalah Uang. Tapi sebenarnya berapa banyak diantara kita yang benar-benar dapat memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya? Sebenarnya, jika Anda ingin mengatur kehidupan Anda dan membuatnya menyenangkan, sebagai permulaan yang Anda butuhkan adalah mengatur waktu Anda. Tak perlu dipertanyakan lagi, pengaturan waktu yang efektif merupakan hal mendasar untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan. Pada kenyataannya, seringkali terdapat perbedaan antara pencapai kehidupan sejati dan orang-orang yang, meski sibuk, tak pernah sampai pada titik dimanapun.

LECTURE RESUME – Tak mengejutkan kalau dalam seluruhan industri pengaturan waktu jadi sebuah kebutuhan. Tapi jika Anda meninjau lebih dalam, Anda akan dapat melihat bahwa sebenarnya pengaturan waktu tak jauh beda dengan manajeman diri. Karena pada kenyataanya, Anda tak dapat mengatur waktu, tapi Anda dapat mengatur diri sendiri dan apa yang Anda lakukan dalam setiap kesempatan.


Kebanyakan ahli sepakat bahwa sukses merupakan hasil dari kebiasaan. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlancar bagaimana Anda menggunkan waktu, yakni dimulai dengan kebiasaan Anda (kontrol diri). Dan kebiasaan ini dimulai sebagai pembuatan keputusan secara sadar.

Sekali Anda bisa, seterusnya kebiasaan bagus ini jadi hal alami. Dalam banyak kasus, sukses bukan dihasilkan dari hal yang tak biasa, tapi lebih sebagai hasil dari kemampuan seseorang untuk ‘menguasai keduniawian’. Dengan konsisten menampilkan seluruh tugas penting yang belum sempurna, sejalan dengan waktu aktivitas ini akan berubah jadi pencapaian besar.Berikut beberapa aturan sederhana yang dapat diikuti untuk melakukan pengaturan waktu yang lebih baik:

1. Jangan Menangguhkan. Lakukan saat ini juga
Saat orang menunda sesuatu, itu berarti membunuh daya gerak pencapaian pada tujuan saat ini dan menghalangi kesempatan di masa mendatang lantaran waktu yang tersumbat. Cara untuk mencegah penundaan adalah dengan merancang deadline untuk tujuan yang harus dicapai. Menghindari deadline terakhir membawa penundaan yang diatur tujuan sebagai perantara untuk mencapai setingkat demi setingkat menuju tujuan.

2. Lacak Aktivitas Anda
Memori adalah penuntun yang payah, jika ini berhubungan dengan menetapkan bagaimana Anda melewatkan waktu Anda. Cara terbaik untuk merekam aktivitas Anda sepanjang hari adalah dengan mendata apa yang Anda lakukan. Kebanyakan orang akan menemukan kalau mereka memiliki tiga jam dalam tiap hari yang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang lebih membangun atau tindakan yang efisiean. Kurangi waktu yang Anda gunakan untuk bertelepon, membolak-balik majalah atau surfing di web yang tak mengahasilkan apapun, dan batasi kegiatan-kegiatan yang tak penting.

3. Berkonsentrasi Pada Hasil
Banyak orang melewatkan waktu mereka sepanjang hari dengan aktivitas yang hiruk-pikuk, tapi hanya sedikit membuahkan hasil. Itu semua terjadi karena mereka tak berkonsentrasi pada hal yang benar. Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif. Aktivitas dapat memang kadang dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mencapai tujuan Anda. Dengan lebih berkonsentrasi pada sedikit preoritas ‘utama’ secara teratur. Anda dapat mencapai lebih banyak hal dalam waktu singkat.

4. Ingat Prisip 80/20
20% kunci aktivitas Anda akan memberi Anda 80% dalam bentuk hasil. Tujuan Anda adalah mengubah ini untuk memastikan kalau Anda berkonsentrasi sebanyak usaha yang mungkin Anda lakukan untuk hasil tertinggi dari tujuan.

5. Gunakan Waktu Perjalanan Dengan Bijaksana
Sangat mudah untuk mengabaikan waktu yang dilakukan untuk menempuh perjalanan dalam penafsiran manajeman waktu. Pertimbangkan dengan hati-hati apakah ini merupakan waktu yang sesuai dimana Anda dapat juga menggunakannya secara lebih produktif. Sebagai contoh, jika Anda memilih naik bus atau kereta untuk menuju tempat kerja, apakah ini menyediakan kesempatan untuk membuat penggunaan waktu Anda jadi lebih baik? Atau jika Anda nyetir sendiri, apa Anda bisa mendengarkan rekaman pendidikan atau motivasional yang dapat membuat Anda memperbaiki ketrampilan dan lebih produktif?

6. Bangun Rancangan Aksi
Sebuah rencana tindakan merupakan daftar pendek dari tugas yang harus dilengkapi untuk mencapai sebuah tujuan. Ini beda dengan To Do list dimana fokus utmanya adalah pencapaian tujuan, (dan langkah untuk mencapainya secara spesifik) dari pada hanya membuat tujuan untuk dicapai dalam periode waktu. Kapanpun Anda ingin mencapai sesuatu, buat gambaran gambalng dari rencana tindakan, ini akan memberi Anda kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada tahap pencapaian itu, dan memonitor kemajuannya dalam perwujudan.

7. Merespon Dengan Cepat
Sebagai contoh, urus mail Anda begitu Anda menerima surat. Jangan biarkan tagihan dan surat-surat itu membebani Anda. Jika Anda tak bisa membalas sebuah surat saat itu juga, buat file di tempat khusus yang mudah dilihat, dan tuliskan di amplop tindakan yang dibutuhkan serta tanggal dimana Anda dapat menyelesaikannya.Ketika memungkinkan, lakukan tindakan pada hari yang sama saat Anda menerimanya. Jangan biarkan komputer, meja dan pikiran Anda jadi bertumpuk dengan hal yang tak berguna.

8. Bersikap Tegas
Belajarlah berkata tidak pada orang lain. Waktu Anda sangat berharga. Jadi jangan biarkan orang lain menentukan atau memanfaatkan Anda untuk kepentingan rencana mereka. Batasi gangguan sebisa mungkin. Tutup pintu Anda, matikan nada dering telepon atau minta dengan terus terang agar Anda tidak diganggu.

9. Jadwalkan Waktu Untuk Bersantai
Saat Anda mengatur waktu dan bisnis Anda, pastikan untuk menyisihkan saat untuk bersantai.

Tugas pertama Anda untuk dapat mengatur waktu dengan lebih baik adalah membuat mendaftar seberapa banyak waktu yang Anda buang sia-sia selama sehari, dari sana atur ulang aktivitas Anda untuk melakukan yang lebih maksimal dalam setiap menit. Lebih dari segalanya, berpegangteguhlah pada rencana Anda. Jadwal yang Anda buat hanya dapat terlaksana dengan benar hanya jika Anda keukeh dengan itu. Nah, dengan mengikuti tips ini kami harap Anda akan memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan hal-hal yang ingin Anda capai dalam hidup Anda

Rabu, 06 Januari 2010

about jurnalis 2

Seorang kawan—ia penulis, pernah menjadi wartawan di sebuah majalah nasional—menulis di Facebook-nya: ”Jurnalis juga bisa (menulis) akademik!” Ia kesal gara-gara, dalam sebuah forum diskusi, seorang perempuan bergelar doktor berkata dengan nada ketus, ”Jurnalistik itu tidak akademis.” Dalam benak si doktor, seorang jurnalis tidak mampu menghasilkan tulisan serumit karya akademik.

Saya tergoda untuk menghibur sekaligus mengoreksi anggapan keliru kawan saya dengan menulis tanggapan: karya jurnalistik selamanya memang bukan tulisan akademik. Anggapan sang doktor tidak salah, kawan. Ia hanya kurang luas pengetahuannya, sehingga tidak bisa menempatkan kedudukan tulisan akademik dan jurnalistik secara proporsional.

Tulisan akademik dan jurnalistik berada di ranah berbeda; tentang kepada siapa masing-masing jenis karya tulis itu didedikasikan. Namun, dalam hal validitas tulisan sebagai karya yang bisa diakses publik, keduanya memiliki pertanggungjawaban moral yang kurang-lebih sama.

Fenomena ”ketegangan” antara kalangan akademikus dan jurnalis sudah lama berlangsung. Sering dijumpai, seorang akademikus (peneliti, dosen) memandang tulisan jurnalistik sebagai karya yang tidak serius dalam membahas satu persoalan.

Sumber ketegangan itu juga berasal dari perbedaan dalam pilihan bahasa. Tulisan akademik wajib menggunakan tata bahasa baku-formal yang cenderung kaku dan datar. Isi tulisannya fakultatif. Pilihan-pilihan terminologi ”boleh” saja tidak dimengerti awam.

Sedangkan jurnalistik berbahasa populer, lugas, padat, dan informatif, karena ia didedikasikan kepada publik pembaca yang heterogen. Ia merupakan tulisan yang hidup sesuai dengan dinamika masyarakatnya, seperti terbaca pada angle tulisan.

Demi kelugasan sebuah artikel jurnalistik, penyebutan gelar akademik seseorang tidak diperlukan. Tapi keterangan bidang otoritas narasumber tetap diutamakan, dan cukup disebut hanya satu kali dalam satu artikel. Karena itu, tak aneh bila seorang wartawan senior harus memarahi redaktur yang tidak menambahkan keterangan ”ahli ulat sutra”, misalnya, sebagai anak kalimat dari Profesor X.

Dalam hal penggunaan bahasa populer, media massa pernah menuai kritik dari kalangan akademikus sebagai perusak bahasa Indonesia nomor satu. Memang, banyak penulisan artikel di surat kabar yang tidak bertata bahasa baku, atau sering berstruktur kalimat tidak sempurna. Mengatakan masa tenggat yang sempit dalam proses penulisan artikel jurnalistik adalah sebuah keculasan. Sebab, berbahasa populer tidak identik dengan menulis tata bahasa yang ngawur. Setiap wartawan berhak mencatat kritik di atas.

Sejatinya, karya jurnalistik selalu dijiwai logika berpikir ilmiah, dan untuk itu diperlukan kutipan seorang akademikus (ahli), misalnya. Dan karya akademik adalah bahan bacaan penting bagi setiap wartawan.

Kini, banyak media massa memuat tulisan para akademikus-intelektual. Gagasan-gagasan fakultatif dan rumit, lantaran diulas dalam bahasa populer, menjadi bacaan yang segar, enteng, dan mencerahkan. Sebaran komunikasi capaian-capaian ilmu pengetahuan pun menjadi semakin luas.

Publik Indonesia bisa menyaksikan sejumlah intelektual asing (Indonesianis) yang ketat tradisi akademiknya toh juga menghasilkan karya-karya berbahasa populer, semisal Ben Anderson atau dulu (mendiang) Herbert Feith dan Daniel Lev. Tulisan bergaya bahasa kaum jurnalis pada Civil Islam karya Robert Hefner atau kolom-kolom Bill Liddle di media massa Indonesia tidak menurunkan reputasi mereka sebagai peneliti serta akademikus andal.

Begitu juga kupasan topik-topik ekonomi di media massa yang bercitra rasa bahasa populer yang ditulis Chatib Basri, atau dulu Sri Mulyani dan Mubyarto (almarhum), sebagaimana tulisan Syafi’i Ma’arif, Frans Magnis Suseno (budaya), Dewi Fortuna Anwar, Bachtiar Effendi, atau Eep Saefulloh Fatah (politik). Di masa lalu, Amien Rais juga sering menulis opini di media massa. Bahkan intelektual yang aktif menulis di jurnal-jurnal akademik internasional semisal Taufik Abdullah pun sangat lihai dalam berbahasa populer saat beropini di media massa.

Tulisan berbahasa gaya jurnalis seolah menjadi ”jalan” bagi para intelektual-akademikus untuk tampil lebih populis atau agar pemikiran mereka bisa lebih komunikatif dengan segmen pembaca yang lebih luas.

Senin, 04 Januari 2010

jurnalis sastra

Penulisan jurnalistik: akronim, angka, kutipan, ejaan, kata asing, logika, kata sifat

INILAH kerikil yang sering mengganggu dalam penulisan jurnalistik.

1. Singkatan/Akronim

Jangan terlalu banyak singkatan dalam sebuah alinea. Untuk sebuah alinea pendek, usahakan tidak lebih dari tiga singkatan saja. Untuk sebuah alinea panjang, jumlah singkatan sampai lima masih diperkenankan, tergantung kebutuhan.

Perhatikan juga cara penulisan singkatan dalam teks:

Benar: Sigit Sutomo, 46 tahun, adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Pelangi.

Salah: Sigit Sutomo, 46 tahun, adalah anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dari Fraksi Pelangi.

Fungsi singkatan adalah untuk menghindari pengulangan sebuah nama atau entitas. Karena itu disebut dulu nama lengkap dari sebuah entitas yang dimaksudkan, baru diikuti oleh singkatannya dalam kurung. Sehingga untuk selanjutnya, jika mengacu pada nama itu, bisa digunakan singkatannya saja.

Selain itu, untuk variasi penulisan, jika DPR diulangi lebih dari dua kali dalam teks ini, cukup disebutkan sebagai Dewan. Pembaca tak akan keliru menafsirkan hal itu sebagai Dewan Kelurahan, Dewan Komisaris, Dewan Pengamat, atau Dewan-dewan lain karena di awal teks sudah disebutkan sebagai “Dewan Perwakilan Rakyat”.

2. Angka

Salah satu hal yang membuat sebuah teks cepat membuat pusing pembaca adalah jika angka-angka bertaburan, bahkan berdempetan, dalam sebuah teks. Artikel-artikel ekonomi sering sulit menghindari hal ini.

Namun untuk artikel yang lebih umum, usahakan agar sesedikit mungkin ada deretan angka pada sebuah kalimat. Tebarlah pada beberapa kesempatan agar pembaca bisa “bernapas”.

Salah: Keris sepanjang 23 cm itu terdiri dari 9 luk, dibuat dari 250 gram besi yang dilebur 57 gram timah dengan sepuhan 5 gram emas, dibuat selama 27 hari oleh Empu Sendok yang dibantu 5 pembantunya setelah mereka berpuasa 8 minggu.

Bayangkan betapa sulitnya pembaca “menelan” artikel seperti ini.

3. Kutipan

Meski kutipan itu penting dalam memberikan “ruh” bagi sebuah tulisan, namun terlalu banyak kutipan dalam sebuah alinea juga membuat artikel tak nyaman dibaca. Jangan lupa, ini artikel jurnalistik, bukan sebuah prosa.

4. Kata-kata asing

Kata-kata asing yang berjejalan dalam sebuah naskah berbahasa Indonesia (dan karena itu harus ditulis
miring/italic) adalah bentuk kerikil yang lain. Seorang jurnalis harus berupaya sekuat tenaga mencari padanan kata bahasa Indonesia, ketimbang menggunakan mentah-mentah istilah itu, KECUALI, jika istilah itu DIUCAPKAN oleh narasumber, atau memang SANGAT SUSAH untuk ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

5. Ejaan

Ejaan yang sudah baku dan diketahui umum, namun masih dituliskan secara salah oleh seorang penulis jurnalistik, juga menjadi kerikil yang mengurangi kenyamanan pembaca.

Contoh yang paling sering ditemukan adalah:

1. Silahkan (Salah), Silakan (Benar, tanpa “h”).
2. Dirubah (Salah), Diubah (Benar, kata dasarnya ‘ubah’, bukan
‘rubah’).
3. Merubah (Salah), Mengubah (Benar, lihat no. 2).
4. Analisa/menganalisa (Salah), Analisis/menganalisis (Benar).
5. Komoditi (Salah), Komoditas (Benar, lihat contoh lain yang berakar dari bahasa Inggris seperti ‘community’, ’solidarity’, ‘equity’).

6. Logika kalimat

Logika kalimat yang rancu menjadi kerikil selanjutnya yang mengurangi kenikmatan membaca.

Salah: Kesebelasan Indonesia dikalahkan tim Thailand 3-1.

Benar: Kesebelasan Indonesia dikalahkan tim Thailand 1-3. (Logikanya, karena kalah pasti mendapat nilai lebih kecil).

atau

Benar: Tim Thailand mengalahkan Indonesia 3-1.

Contoh lain.

Salah: Penjahat itu akhirnya berhasil ditangkap polisi. (Logikanya, kalau bisa ditangkap polisi, berarti penjahat itu tidak berhasil)

Benar: Polisi akhirnya berhasil menangkap Abu Somat, penjahat yang sudah menewaskan 11 orang.

7. Kata sifat

Berbeda dengan karya fiksi yang mengajak serta pembacanya untuk berimajinasi, dan karena itu tak terkungkung oleh pemakaian kata sifat, sebuah karya jurnalistik harus sejelas mungkin mengantarkan pembaca pada satu pengertian, bukan multitafsir.

Salah: Dalang pertunjukan boneka itu seorang lelaki bertubuh jangkung.

Benar: Dalang pertunjukkan boneka itu seorang lelaki dengan tinggi badan 173 cm.

(Perhatikan, “jangkung” atau “pendek” adalah sebuah konsep relatif tergantung dari sudut pandang. Untuk seorang pembaca yang bertinggi badan 160-165 cm, seseorang dengan tinggi 173 cm mungkin terlihat jangkung. Tapi bagi pembaca dengan tinggi badan 178 cm ke atas, kalimat pertama bisa menyesatkannya dan membawa pengertian bahwa dalang itu memiliki tinggi badan “lebih dari 180 cm”).

Begitu juga dengan contoh-contoh, “rumah itu kokoh (sebut saja, rumah itu berlantai dua)”, “Amelia seorang gadis cantik (cantik sebuah konsep relatif, sebut saja berkulit putih kah? sawo matang? kuning?).

NAMUN …

Sebuah perbandingan dengan sebuah benda lain atau manusia lain yang dikenal publik secara umum, membuat penggunaan kata sifat dalam sebuah artikel jurnalistik bisa semakin memperkuat maksud kalimat itu.

Misalnya: Rumah itu sekokoh Gedung Putih (White House).

Atau: Anda masih ingat aktris Mandarin, Gong Li? Nah, seperti itulah Amelia.

Minggu, 03 Januari 2010

Jurnalistik keragaman

JURNALISME MULTIKULTUR UNTUK
KERAGAMAN BANGSA INDONESIA
Sebagai bangsa yang telah menyatakan kemerdekaannya lebih dari 50 tahun yang
lalu, Indonesia menyadari potensi keragaman yang dimiliki lewat masyarakatnya yang terdiri
dari berbagai agama, etnis, budaya, dan lain-lain. Secara sederhana dapat disebut bahwa
bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki masyarakat yang multikultural, oleh
karena itu perlu usaha nyata untuk menjadikan multikulturalisme dan pluralisme sebagai
“alat” hidup bangsa Indonesia yang multikultural sekaligus plural tersebut.
Berawal dari potensi keragaman yang dimiliki Indonesia itulah muncul pemikiran
perlunya mengambangkan kesadaran kewarganegaraan yang baik (citizenship), bahkan lebih
jauh menjadi Inclusive Citizenship (Nasikun, 2007). Inclusive citizenship dapat dicapai jika
warga negara di dalamnya melakukan konsolidasi demokrasi, artinya tidak hanya
menciptakan pemerintahan oleh rakyat baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil
yang dipilih, namun menciptakan masyarakat yang menghargai hak-hak asasi manusia secara
sama, menghargai kebebasan dan mendukung toleransi, khususnya terhadap pandanganpandangan
kelompok minoritas. Dalam masyarakat yang bergerak kearah masyarakat
informasi, sebagaimana dilukiskan dengan sangat baik oleh Alvin Tovler, media memberi
peranan penting untuk membentuk dan mendidik masyarakat berperilaku sesuai dengan yang
diinginkan (Agenda Setting). Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk jurnalisme baru yang
mampu membantu masyarakat mencapai keadaan sebagaimana dicita-citakan oleh Inclusive
citizenship.
Belajar dari masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat sebagai tempat munculnya
konsep demokrasi modern, jurnalisme dihadirkan sebagai suatu alat atau cara untuk
membangun kesadaran kewarganegaraan (citizenzship). Jurnalisme ada untuk memenuhi hakhak
warga negara, jurnalisme ada untuk memenuhi demokrasi (Kovach, 2003). Dalam
konteks ini media massa merupakan salah satu pilar jurnalisme itu sendiri. Ia harus menjadi
wadah perbedaan pendapat yang sehat, tidak bertendensi memojokkan kelompok
berseberangan dengan dirinya, untuk itulah pemikiran baru mengenai Jurnalisme
dimunculkan yakni Jurnalisme Multikultur.
Jurnalisme multikultur secara esensial tidak jauh berbeda dari pemahaman jurnalisme
itu sendiri, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan konsep jurnalisme multikultur juga
masih mengacu pada pengertian jurnalisme sebagai alat untuk melakukan konstruksi atas
realitas, dimana konsturksi tersebut dituangkan dalam media informasi berupa televisi, surat
kabar, majalah, internet, dan lain sebagainya. Perbedaannya adalah jurnalisme multikultur
memiliki perspektif multikulturalisme dan pluralisme yang digunakan untuk melihat realitas
yang akan dikonstruksi dan kemudian diolah menjadi berita. Perspektif multikulturalisme dan
pluralisme yang dikembangkan oleh paham jurnalisme baru ini adalah perspektif struktural
dalam bingkai agama, etnis, kelompok, dan golongan. Bingkai-bingkai tersebut menjadi
perhatian utama oleh jurnalisme multikultur, khususnya struktur yang dibangun oleh agama,
etnis, kelompok, dan golongan tersebut demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Lewat jurnalisme multikultur ini kita menemukan peluang keragaman yang luar biasa
luas. Jurnalisme multikultur memungkinkan kita mengolah keragaman yang dimiliki (dalam
hal ini bangsa Indonesia) sebagai sebuah kekuatan untuk mewujudkan inclusive citizenship,
dimana tercapai suatu masyarakat yang makmur dan sejahtera yang dilandasi oleh
konsolidasi demokrasi yang kuat. Selain itu, jurnalisme multikultur mampu mengembangkan
kehidupan yang lebih beradab melalui penghormatan, pengertian, toleransi, dan pemahaman
terhadap perbedaan pada tiap manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jurnalistik keragaman

JURNALISME MULTIKULTUR UNTUK
KERAGAMAN BANGSA INDONESIA
Sebagai bangsa yang telah menyatakan kemerdekaannya lebih dari 50 tahun yang
lalu, Indonesia menyadari potensi keragaman yang dimiliki lewat masyarakatnya yang terdiri
dari berbagai agama, etnis, budaya, dan lain-lain. Secara sederhana dapat disebut bahwa
bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk memiliki masyarakat yang multikultural, oleh
karena itu perlu usaha nyata untuk menjadikan multikulturalisme dan pluralisme sebagai
“alat” hidup bangsa Indonesia yang multikultural sekaligus plural tersebut.
Berawal dari potensi keragaman yang dimiliki Indonesia itulah muncul pemikiran
perlunya mengambangkan kesadaran kewarganegaraan yang baik (citizenship), bahkan lebih
jauh menjadi Inclusive Citizenship (Nasikun, 2007). Inclusive citizenship dapat dicapai jika
warga negara di dalamnya melakukan konsolidasi demokrasi, artinya tidak hanya
menciptakan pemerintahan oleh rakyat baik secara langsung maupun melalui wakil-wakil
yang dipilih, namun menciptakan masyarakat yang menghargai hak-hak asasi manusia secara
sama, menghargai kebebasan dan mendukung toleransi, khususnya terhadap pandanganpandangan
kelompok minoritas. Dalam masyarakat yang bergerak kearah masyarakat
informasi, sebagaimana dilukiskan dengan sangat baik oleh Alvin Tovler, media memberi
peranan penting untuk membentuk dan mendidik masyarakat berperilaku sesuai dengan yang
diinginkan (Agenda Setting). Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk jurnalisme baru yang
mampu membantu masyarakat mencapai keadaan sebagaimana dicita-citakan oleh Inclusive
citizenship.
Belajar dari masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat sebagai tempat munculnya
konsep demokrasi modern, jurnalisme dihadirkan sebagai suatu alat atau cara untuk
membangun kesadaran kewarganegaraan (citizenzship). Jurnalisme ada untuk memenuhi hakhak
warga negara, jurnalisme ada untuk memenuhi demokrasi (Kovach, 2003). Dalam
konteks ini media massa merupakan salah satu pilar jurnalisme itu sendiri. Ia harus menjadi
wadah perbedaan pendapat yang sehat, tidak bertendensi memojokkan kelompok
berseberangan dengan dirinya, untuk itulah pemikiran baru mengenai Jurnalisme
dimunculkan yakni Jurnalisme Multikultur.
Jurnalisme multikultur secara esensial tidak jauh berbeda dari pemahaman jurnalisme
itu sendiri, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan konsep jurnalisme multikultur juga
masih mengacu pada pengertian jurnalisme sebagai alat untuk melakukan konstruksi atas
realitas, dimana konsturksi tersebut dituangkan dalam media informasi berupa televisi, surat
kabar, majalah, internet, dan lain sebagainya. Perbedaannya adalah jurnalisme multikultur
memiliki perspektif multikulturalisme dan pluralisme yang digunakan untuk melihat realitas
yang akan dikonstruksi dan kemudian diolah menjadi berita. Perspektif multikulturalisme dan
pluralisme yang dikembangkan oleh paham jurnalisme baru ini adalah perspektif struktural
dalam bingkai agama, etnis, kelompok, dan golongan. Bingkai-bingkai tersebut menjadi
perhatian utama oleh jurnalisme multikultur, khususnya struktur yang dibangun oleh agama,
etnis, kelompok, dan golongan tersebut demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Lewat jurnalisme multikultur ini kita menemukan peluang keragaman yang luar biasa
luas. Jurnalisme multikultur memungkinkan kita mengolah keragaman yang dimiliki (dalam
hal ini bangsa Indonesia) sebagai sebuah kekuatan untuk mewujudkan inclusive citizenship,
dimana tercapai suatu masyarakat yang makmur dan sejahtera yang dilandasi oleh
konsolidasi demokrasi yang kuat. Selain itu, jurnalisme multikultur mampu mengembangkan
kehidupan yang lebih beradab melalui penghormatan, pengertian, toleransi, dan pemahaman
terhadap perbedaan pada tiap manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

pluralisme jurnalis ala gus dur

Zuhairi Misrawi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam prosesi pemakaman Gus Dur menyatakan bahwa almarhum adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme. Sultan Hamengku Buwono X juga menyebut Gus Dur sebagai pejuang pluralisme, Kamis (31/12).

Kematian Gus Dur sungguh mengejutkan seluruh pihak. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru yang lalu. Penulis sangat terharu ketika melihat langsung ratusan ribu warga menyambut kedatangan jenazah almarhum di pesarean Pesantren Tebuireng. Mereka melambaikan tangan sembari melafadzkan pujian kepada Tuhan dan Muhammad SAW, sebagaimana lazimnya dalam tradisi NU.

Salah satu jasa besar Gus Dur adalah mengukuhkan panji-panji pluralisme. Sebab itu, pernyataan Gus Dur sebagai bapak dan pejuang pluralisme merupakan sebuah realitas yang tidak terbantahkan lagi. Meskipun demikian, pernyataan tersebut meninggalkan dua hal: harapan dan tantangan.

Harapan, karena pluralisme masih menjadi laku sosial-politik. Mereka yang mendukung tegaknya kebinekaan merupakan kelompok mayoritas. Sebaliknya, mereka yang menolak pluralisme adalah kelompok kecil yang kadang kala suara mereka lantang di permukaan. Meskipun suara mereka lantang, tetapi kehendak publik pada pluralisme tidak akan mampu ditundukkan oleh ambisi dan tendensi mereka.

Gus Dur berada di barisan garda depan untuk memperkuat pluralisme di republik ini. Istimewanya, pluralisme yang dikembangkan Gus Dur tidak hanya pada tataran pemikiran, melainkan menjadi sebuah tindakan sosial-politik. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan Gus Dur secara eksplisit menjadikan kebangsaan sebagai pijakan utamanya. Padahal, partai tersebut didukung sepenuhnya oleh basis kalangan Muslim tradisional. Gus Dur telah mampu menggabungkan antara pemikiran dan tindakan pluralisme.

Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan.

Tantangan

Meskipun demikian, harus diakui bahwa pluralisme masih menghadapi tantangan yang serius, terutama pasca-fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme. Beberapa hari lalu, dalam sebuah khotbah Jumat di salah satu masjid di Ciputat, penulis masih mendengarkan seorang khatib yang mengutip fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme.

Fatwa semacam ini merupakan tantangan serius dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Karena seolah-olah ketika berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda, maka dianggap akan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Padahal, dialog dan perjumpaan justru dapat menjadi kekuatan dan potensi, terutama dalam konteks kebangsaan.

Pluralisme pertama-tama dimulai dari kesadaran tentang pentingnya perbedaan dan keragaman. Sebab perbedaan merupakan fitrah yang harus dirayakan dan dirangkai menjadi kekuatan untuk membangun harmoni. Adapun anggapan bahwa pluralisme akan menjadi sinkretisme merupakan pandangan yang cenderung mengada-ada. Faktanya, pluralisme dan sinkretisme sangat tidak identik.

Pluralisme makin mendapat tantangan karena tindakan intoleransi sepanjang tahun 2009 masih menjadi momok yang menakutkan. Setidaknya, menurut pemantauan Moderate Muslim Society, ada sekitar 59 tindakan intoleransi. Puncaknya adalah aksi terorisme yang membuktikan bahwa ekstremisme dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu masih mengemuka. Pelaku dan jaringannya berhasil ditangkap, bahkan dibunuh, tetapi paham dan habitatnya masih terus berkembang.

Fatwa keagamaan berupa penyesatan dan pengharaman terhadap kelompok minoritas dalam intra-agama sepanjang tahun 2009 juga menjadi tantangan serius. Fatwa tersebut dapat digunakan untuk melakukan tindakan hukum yang dapat dianggap sebagai diskriminasi dan kriminalisasi terhadap kelompok minoritas. Fatwa tersebut kerap kali dijadikan sebagai landasan untuk melarang kegiatan dan memejahijaukan mereka dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama. Di samping itu, kelompok minoritas harus mendapatkan perlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok masyarakat yang tidak beridentitas, baik penyerangan maupun pengusiran.

Oleh sebab itu, Pew Forum on Religion and Public Life (2009) dalam rilisnya tentang indeks diskriminasi yang dilakukan pemerintah, Indonesia termasuk negara dalam kategori high dan very high karena masih ada undang-undang dan hukum yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk melakukan tindakan intoleran, baik berupa restriksi, dehumanisasi, dan opresi. Bahkan, diskriminasi yang terjadi di republik ini menyerupai Pakistan dan Afganistan.

Dalam hal ini, menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran Gus Dur menjadi sangat relevan. Di antaranya diperlukan pandangan keagamaan yang berorientasi kebangsaan, yang dapat melindungi seluruh warga negara, apa pun agama, keyakinan, kelompok, ras, dan sukunya. Dalam buku Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, Gus Dur menegaskan bahwa umat Islam Indonesia harus mengembangkan pandangan keislaman yang berorientasi kebangsaan. Salah satu pesan yang kuat dalam Al Quran adalah bahwa Muhammad SAW diutus oleh Tuhan untuk membangun persaudaraan bagi seluruh umat (QS al-Anbiya [21]: 107).

Istilah tersebut menjadi salah satu prinsip yang menonjol di lingkungan Nahdlatul Ulama, yaitu Islam Rahmatan lil ’alamien. Islam menyebarkan ajaran tentang perdamaian dan toleransi, bukan ajaran yang menebarkan konflik, apalagi kekerasan. Gus Dur senantiasa menyatakan bahwa keberislaman yang berkembang di Tanah Air berbeda dengan keberislaman yang berkembang di Arab Saudi. Interaksi kebudayaan di antara berbagai kelompok di Tanah Air telah menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka terhadap perbedaan dan keragaman, bahkan mendorong demokratisasi.

Oleh karena itulah, dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana dilakukan oleh Presiden Yudhoyono, akan sangat baik apabila MUI menarik kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme. Dan, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawa MUI. Tradisi penangguhan dan koreksi fatwa dilakukan oleh ulama terdahulu, sebagaimana dilakukan oleh Imam Syafi’i dengan diktum pendapat lama (qaul qadim) selama masih di Irak dan pendapat baru (qaul jadid) ketika menetap di Mesir.

Tentu, pada masa mendatang, kehidupan berbangsa dan bernegara yang relatif toleran dan harmonis ini harus didukung oleh kebijakan publik dan pandangan keagamaan yang secara sungguh-sungguh dapat memperkuat kebinekaan. Itulah sesungguhnya yang menjadikan Gus Dur sebagai pendekar pluralisme di republik ini. Zuhairi Misrawi Intelektual Muda NU dan Ketua Moderate Muslim Society

Kamis, 31 Desember 2009

dasar jurnalistik

Pengertian Jurnalistik

Pengertian istilah jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis.

Secara harfiyah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day). Asal-muasalnya dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.

Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.

1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).

2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.

3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.

Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Dari pengertian kedua ini, kita dapat melihat adanya empat komponen dalam dunia jurnalistik: informasi, penyusunan informasi, penyebarluasan informasi, dan media massa.

Informasi : News & Views

Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).

Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.

Views adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai.

Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest.

Penyusunan Informasi

Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor.

Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut UU No. 40/1999, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:

1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.

2. Menguasai bidang liputan (beat).

3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:

1. News Planning = perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan.

2. News Hunting = pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

3. News Writing = penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.

4. News Editing = penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.

Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).

Penyebarluasan Informasi

Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.

Media Massa

Media Massa (Mass Media) adalah sarana komunikasi massa (channel of mass communication). Komunikasi massa sendiri artinya proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.

Ciri-ciri (karakteristik) medi massa adalah disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas), pesan atau isinya bersifat umum (universalitas), tetap atau berkala (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal-hal baru (aktualitas).

Jenis-jenis media massa adalah Media Massa Cetak (Printed Media), Media Massa Elektronik (Electronic Media), dan Media Online (Cybermedia). Yang termasuk media elektronik adalah radio, televisi, dan film. Sedangkan media cetak –berdasarkan formatnya— terdiri dari koran atau suratkabar, tabloid, newsletter, majalah, buletin, dan buku. Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual layaknya media massa cetak.

Produk Utama Jurnalistik: Berita

Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature.

Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.

Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi” enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)

2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.

3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead.

percaya Diri dalam berkreasi menulis

Sering kali, orang punya ide atau gagasan yang bagus dan ingin mengungkapkannya dengan menulis. Namun, tak jarang semua ide "brilian" itu menguap begitu saja karena kurangnya rasa percaya diri. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah sekadar karena kurangnya rasa percaya diri? Berikut ini contoh kalimat-kalimat yang menggambarkan hubungan antara menulis dan rasa percaya diri.

"Duh, aku nggak bisa nulis, nih!" "Duh, aku nggak tahu mau mulai dari mana?" "Terus, aku nulis apa, dong?" "Aku nggak yakin bakalan bisa nulis. Tulisanku kan jelek, ntar diketawain orang lagi!!!"

Ungkapan-ungkapan di atas tentunya sering kita dengar, bukan? Orang sering kali mengeluh ketika berhadapan dengan suatu tugas yang mewajibkan mereka untuk menulis. Beragam alasan muncul sebagai dalih untuk ketidakmampuan mereka dalam menulis. Mulai dari kurangnya ide, minimnya kosakata, cara merangkai suatu ide menjadi satu paragraf, ketidakmampuan dalam hal menyunting, dsb.. Pernyataan-pernyataan tadi seakan menjadi benteng yang sulit untuk dilewati oleh setiap orang ketika mulai belajar menulis.

"Nothing is impossible to do". Pernahkah kita menyadari arti ungkapan tersebut? Tidak ada hal yang mustahil untuk dikerjakan ketika kita mau berusaha. Pikiran positif akan mendorong kita untuk berusaha lebih keras daripada yang kita pikirkan. Hasilnya akan membuat kita takjub karena sebenarnya kita bisa meraih hasil lebih daripada yang kita pikirkan. Keterbatasan yang ada bukan karena ketidakmampuan kita dalam menulis, namun pikiran kita yang menghambatnya. Ini diakibatkan oleh kurangnya rasa percaya diri pada individu itu sendiri.

Setiap orang berdalih tidak mampu menulis dan mengalami krisis kepercayaan diri. Fenomena seperti ini seakan menjadi hal yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang. Memang hal yang aneh tentunya kalau ada orang yang bisa membaca dan menulis selama bertahun-tahun sejak sekolah dasar mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menulis. Menulis selalu disalahartikan sebagai sesuatu yang sakral dan bersifat eksklusif. Eksklusif di sini dapat diartikan sebagai hal yang hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Misalnya, menulis hanya dilakukan oleh pengarang buku, penulis skenario, sastrawan, atau pun orang-orang yang bekerja dalam bidang seni.

Perlu dipahami bahwa menulis merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang dan tidak memandang latar belakang, status sosial, bahkan bakat. Menulis merupakan keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dan, menulis merupakan hal yang dapat dipelajari oleh semua orang. Belajar akan memudahkan setiap orang untuk terus menggali kemampuannya. Bakat bukanlah dewa yang harus ada dalam setiap individu. Keberhasilan sembilan puluh persen di antaranya ditentukan oleh kemampuan kita dalam berusaha, bukan soal bakat yang mendominasi kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Menulis dapat dilakukan oleh semua orang karena menulis adalah salah satu bentuk kegiatan pengungkapan ide atau gagasan seseorang melalui sebuah media, seperti buku, buletin, novel, skenario, makalah, laporan penelitian, majalah, koran, surat, dsb.. Pengungkapan ide ini tidak boleh dibatasi oleh rasa kurangnya kepercayaan diri seseorang. Sebab, rasa percaya diri merupakan mesin penggerak utama seseorang dalam menulis.

Bila diibaratkan, ide-ide yang ingin kita sampaikan itu adalah tujuan yang ingin dicapai, dan untuk sampai pada tujuan, kita memerlukan sebuah sarana yang membantu kita, dalam hal ini tentu saja tingkat kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan sampai tidaknya gagasan dan ide-ide kita dalam suatu tulisan. Percaya diri adalah salah satu bentuk sikap yang sangat kita butuhkan dalam pengembangan diri melalui aktivitas menulis. Jika seseorang merasa tidak mampu menulis, maka ide-ide yang ada dalam pikirannya akan macet dan tidak bisa dituangkan dalam suatu bentuk tulisan.

Nah, mungkin Anda penasaran dengan apa yang dimaksud dengan rasa percaya diri seseorang sehingga berpengaruh besar dalam hidup kita. Percaya diri merupakan salah satu motor penggerak dan gerbang kebebasan kita dalam mengungkapkan ide dan imajinasi kita. Ingat, imajinasi kita tak terbatas. Rasa kurang percaya diri kitalah yang membuatnya menjadi terbatas.

Definisi percaya diri (self-confidence) adalah sejauh mana Anda memiliki keyakinan terhadap penilaian atas kemampuan dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya "kepantasan" untuk berhasil. "Self-confidence" merupakan kombinasi dari "self-esteem" dan "self-efficacy" (James Neill, 2005). Self-esteem adalah sejauh mana Anda memiliki perasaan positif terhadap diri; sejauh mana Anda punya sesuatu yang dirasakan bernilai atau berharga dari diri Anda; sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri Anda.

Sedangkan self-efficacy adalah sejauh mana Anda memiliki keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauh mana Anda meyakini kapasitas pada bidang Anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy.

Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Albert Bandura, bahwa self-efficacy yang bagus memiliki kontribusi besar terhadap motivasi seseorang. Ini mencakup antara lain: bagaimana seseorang merumuskan tujuan atau target untuk dirinya; sejauh mana orang memperjuangkan target itu; sekuat apa orang itu mampu mengatasi masalah yang muncul; dan setangguh apa orang itu bisa menghadapi kegagalannya. Hal ini membuktikan bahwa rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup kuat untuk merumuskan tujuan kita. Tetapkanlah target dan semangat yang kuat sehingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu rintangan. Perjuangkanlah apa yang menjadi tujuan Anda dan cobalah untuk meraihnya. Begitu juga soal rasa percaya diri dalam menulis, ternyata rasa ini akan sangat menunjang usaha kita dalam melatih keterampilan menulis.

Setiap orang tentu pernah mengalami krisis kepercayaan diri karena krisis ini dialami oleh hampir sebagian besar dari kita. Kurangnya rasa percaya diri ini membuat kita terpasung pada kondisi tetap, yang membuat kita tidak bisa bergerak dengan dinamis untuk menyalurkan segenap kemampuan kita. Krisis ini dapat berdampak negatif jika kita tidak menyadari arti penting percaya diri dalam hidup kita. Perasaan tidak mampu mengerjakan suatu hal secara terus-menerus dapat mengakibatkan matinya kreativitas seseorang. Perlu langkah yang tepat agar kita bisa terlepas dari belenggu kurangnya rasa percaya diri.

Dan ternyata, salah satu cara untuk membantu kita menghilangkan belenggu rasa kurang percaya diri itu tak lain adalah dengan menulis. Ya, menulis. Jangan pernah ragu untuk mengungkapkan gagasan Anda dalam bentuk tulisan. Sebab, menulis apa yang ada dalam benak kita tanpa bermaksud menghapusnya adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

Jangan pernah ragu untuk menulis, apalagi tidak berani menulis hanya karena kita tidak memunyai "basic skill" dalam menulis. Alasan klasik ini tidak dapat kita jadikan sebagai tameng terhadap keengganan kita dalam menulis. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kita mampu mengerjakan sesuatu jika kita berpikir mampu dan kita gagal sebelum berusaha jika kita merendahkan kemampuan diri sendiri dengan mengatakan tidak mampu.

Hargailah diri Anda sendiri dan mulailah menulis. Intinya, saya menganjurkan kepada Anda untuk menulis. Tulislah apa saja yang ingin Anda tulis, tentang segala sesuatu yang pernah terlintas dalam benak Anda. Tumbuhkanlah motivasi pada diri Anda sendiri. Tingkatkan rasa percaya diri Anda untuk menulis saat ini juga. Dan, jangan membuang banyak waktu untuk berpikir apakah saya bisa atau tidak.

Persoalan selanjutnya mengenai apakah yang akan Anda tulis, bagaimana Anda meyampaikan ide, bagaimana mendeskripsikan sesuatu dan agar orang lain mengerti apa yang akan Anda tulis, serta hal teknis lainnya yang akan Anda kembangkan sendiri sesuai dengan sudut pandang dan kreativitas Anda. Kembangkanlah kreativitas dan idealisme Anda dalam menulis. Buatlah sesuatu yang unik dan merupakan ciri khas Anda. Hal ini dimaksudkan supaya Anda memunyai arah yang jelas serta tidak terjebak untuk meniru gaya penulisan orang lain yang belum tentu sesuai dengan pribadi Anda.

Menulis akan membantu Anda dalam meningkatkan kepercayaan diri. Sekali lagi, jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan menganggap Anda tidak mampu. Saya yakin setiap orang memunyai sisi berbeda dari segi ide, konsep, dan gaya penulisan yang menarik untuk dibagikan pada orang lain. Jadi, jangan pernah takut dan menghapus apa yang sudah Anda tulis. Lihat dan cermati setiap tulisan Anda dan cobalah untuk menganalisisnya secara mandiri, baru kemudian meminta pendapat orang lain. Ini karena kita yang lebih mengetahui arah dan maksud tulisan kita. Orang lain yang memberikan kritik dapat kita jadikan perangsang dalam pengembangan keterampilan penulisan kita.

Analisis terhadap berbagai fenomena dan peristiwa yang tertuang dalam tulisan dapat kita jadikan sebagai sarana proses pembelajaran diri yang efektif. Sementara, kemampuan analisis internal bisa membuat kita belajar dalam melihat kekurangan yang kita miliki dan perlu diperbaiki, serta mengembangkan kelebihan yang sudah bisa kita capai.

Perasaan mampu atau tidak mampu akhirnya toh akan hilang. Dan, rasa percaya diri kita akan semakin tumbuh ketika kita mulai belajar menulis. Jangan pernah ragukan kemapuan diri Anda sendiri, bangunlah kepercayaan diri Anda, serta apresiasilah setiap kemajuan yang telah Anda capai. Hal ini akan menjadi penyemangat untuk terus maju dan mengembangkan kemampuan diri Anda. Selamat mencoba dan berusahalah membuat dunia menjadi berbeda dengan tulisan Anda.

bagaimana menggunakan bahasa dalam Jurnalistik

Bahasa ragam jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipakai oleh para pengasuh media massa untuk menyajikan berita bagi audiensnya. Bahasa ragam jurnalistik, yang juga disebut sebagai bahasa koran atau bahasa media massa, ditengarai memiliki kalimat dan alinea yang pendek-pendek, bahasanya pun enak di baca. Lebih dari itu etika dasar jurnalistik menuntut agar bahasa di media massa menyiratkan kejujuran, hangat, akurat, sopan, tidak dibenarkan menggunakan kata-kata yang kasar, atau pun yang menyakiti hati orang. Kutipan tidak boleh diubah-ubah sembarangan apalagi tanpa alasan yang mendasar.

Melalui buku "Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita ini" yang ditulis oleh A.M. Dewabrata, diuraikan pedoman-pedoman yang perlu diperhatikan dalam menyusun kalimat jurnalistik.

1. Gunakan kalimat yang jelas dan jernih.

Dalam kalimat jurnalistik kalimat gunakan kalimat yang jelas dan jernih, tidak ruwet, tidak keruh, kata dan kalimatnya populer. Kalimat yang digunakan haruslah kalimat yagn mengalir dan tidak tersendat.
2. Gunakan gaya bahasa sesuai beritanya.

Untuk "soft news", contohnya feature, sisipkan gaya bahasa yang menarik, sehingga pembaca tidak akan membuang berita Anda. Berita "hard news", gaya bahasa digunakan adalah gaya bahasa yang memberi kesan dan suasana tertentu.
3. Gunakan kalimat yang dapat dinalar atau dilogika.

Dalam menulis sebuah berita, seorang wartawan haruslah selalu menganggap pembacanya tidak tahu apa-apa, tidak punya referensi sedikitpun untuk mencerna berita yang disuguhkan. Karena itu, seorang wartawan akan menuangkan informasi selengkapnya dan sebaik mungkin dalam beritanya. Hal itu untuk menghindari mengelabui dan menyesatkan pembaca.
4. Perhatikan keakuratan berita.

Sebuah berita haruslah akurat, karena jika tidak, berita tersebut tidak pantas untuk dipercaya. Akurasi meliputi ketepatan mengutip sumber berita maupun data dan fakta. Akurasi adalah suatu refleksi rasa tanggungjawab penulis (wartawan)dan media massa yang bersangkutan. Ketidakakuratan dalam berita bisa menimbulkan kerancuan dan bisa juga merugikan orang lain. Menyebut sumber berita serta pada kesempatan informasi ataupun pernyataan yang diberikan disebut atribusi atau "credit line". Hal itu perlu karena pembaca memperoleh gambaran dari mana informsi didapat dan apa bisa dipercaya atau tidak.
5. Pilihlah kata yang tepat.
1. Perhatikan penggunaan kata tidak.

Perhatikan penggunaan kata tidak, karena kata ini berfungsi menegasikan (menghambarkan atau mementahkan) makna yang terkandung di belakangnya. Dalam kalimat jurnalistik kata tidak, sebaiknya diletakkan paling dekat dengan kata yang dinegasikan. Meski demikian, perlu kecermatan untuk menempatkan kata tidak dalam sebuah kalimat jurnalistik sehingga kita dapat menampilkan bahasa ragam jurnalistik yang benar, yang mengutamakan kerjernihan pesan.
2. Kata berkecenderungan.

Pemilihan kata untuk dipakai dalam penyusunan kalimat berita harus mempertimbangkan kecenderungan konotasinya. Kata melalaikan, mengabaikan, dan melecehkan, sama-sama punya makna tidak mau menuruti atau tidak memerhatikan. Tapi, masing-masing kata itu mengandung konotasi yang berbeda dan pesan yang dibawa juga berbeda muatannya, sehingga kalimat yang terbentuk dengan kata itu juga akan beda tampilan dan nuansanya.
3. Kata pungutan (adopsi)

Mengadopsi kata asing maupun daerah, atau mencipta sebuah kata baru, hendaknya memerhatikan alam pikiran orang Indonesia. Karena itu untuk memadankan perlu dipikirkan bagaimana dan apa yang terbagus agar pesan yang disampaikan lewat berita dapat dipahami.
6. Perhatikan juga penghematan kata.

Kata yang bertele-tele dan penuh dengan kata yang berbasa-basi, tidak cocok untuk penulisan berita dan isi media pada umumnya. Karena itu amat penting untuk menulis berita yang pendek, padat, bernas, jelas, dan bersih. Kata-kata yang mubazir harus dibuang, kalimat panjang dan benar-benar boros harus dipendekkan. Tapi hal itu bukan harga mati mengingat keluwesan sebuah media massa. Kadang sebuah kalimat pendek dipanjangkan apabila hal itu akan memperjelas maksud sebuah kalimat. Patokan yang sebenarnya hanyalah soal kejernihan isi berita, agar pesan sampai kepada pembaca dengan sempurna.

Hal yang disebutkan di atas perlu diperhatikan oleh orang yang akan terjun di dalam dunia jurnalistik. Karena lewat media massa, secara langsung atau tidak langsung, wartawan adalah pendidik bagi masyarakatnya. Jika pendidiknya pandai dan menggunakan metode yang cerdas, maka ada harapan masyarakat yang mendapat pengetahuan dari media massa menjadi pandai pula.

Jurnalistik pahamkah anda?

Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.

Apa Itu Jurnalistik?

Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).

Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan.

a. Skeptis

Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.

b. Bertindak (action)

Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.

c. Berubah

Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.

d. Seni dan Profesi

Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.

e. Peran Pers

Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.

Berita

Ketika membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news) berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari kata "new" yang artinya adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas. Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west", dan "south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat sumber arah mata angin tersebut.

Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight news" yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news" tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Sebuah "feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam pelaporannya.

Nilai Berita

Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.

1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
2. Aktual: terbaru, belum "basi".
3. Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
4. Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
5. Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).

Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya adalah:

1. sesuatu yang unik,
2. sesuatu yang luar biasa,
3. sesuatu yang langka,
4. sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
5. menyangkut keinginan publik,
6. yang tersembunyi,
7. sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
8. sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
9. pemikiran dari tokoh penting,
10. komentar/ucapan dari tokoh penting,
11. kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
12. hal lain yang luar biasa.

Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.

Anatomi Berita dan Unsur-Unsur

Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Judul atau kepala berita (headline).
2. Baris tanggal (dateline).
3. Teras berita (lead atau intro).
4. Tubuh berita (body).

Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.

Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).

1. Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
2. What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
3. Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
4. Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
5. When - kapan terjadinya?
6. How - bagaimana terjadinya?

Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), pojok dan surat pembaca.

Sumber Berita

Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.

1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
2. Proses wawancara.
3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
4. Partisipasi dalam peristiwa.

Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.

Dunia Jurnalistik

Jurnalisme adalah kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit, menerbitkan berita melalui koran dan majalah atau memancarkan berita melalui radio dan televisi. Jurnalisme pada dasarnya merupakan bagian dari komunikasi massa secara luas (termasuk juga radio, televisi bahkan bioskop), meski dasar dari jurnalisme adalah koran alias suratkabar.
Sedangkan pers dalam artian sempit adalah media massa cetak seperti Koran, Majalah dan Tabloid. Kendati demikian pers adalah lembaga sosial (social institution) atau lembaga kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari sistem pemerintahan di negara dimana ia beropreasi, bersama-sama dengan subsistem lainnya.

Jurnalistik berasal dari Bahasa Romawi "Diurna" di-Inggriskan menjadi "Journal". Sebuah Surat Kabar yang terbit kala itu adalah "Aucta Diurna" terbit di Romawi (kini Yugoslavia) dengan kulit domba sebagai kertasnya dan tintanya dari arang. Isinya juga terbatas pada aktifitas keluarga raja.

Dalam perkembangannya, karena kemajuan teknologi dan ditemukannya mesin percetakan dengan sistem silinder, maka muncullah istilah pers. Sehingga orang lalu mensenadakan istilah "jurnalistik" dengan "pers".

Di dunia yang serba maju kini, pers mempunyai fungsi berikut:
1. Fungsi Menyiarkan Informasi
2. Fungsi Mendidik
3. Fungsi Menghibur
4. Fungsi Mempengaruhi

Berbicara pers dan jurnalistik, tentunya kita tidak akan lepas dari peran orang yang bermain di dalamnya. Orang yang bekerja dalam dunia jurnalistik disebut wartawan. Seorang wartawan adalah wakil dari masyarakatnya untuk mendengar dan menyuarakan nurani masyarakat. Oleh karena itu, seorang wartawan harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Tidak cukup hanya kepekaan, keberanian seorang wartawan juga dipertaruhkan.

Profesi wartawan adalah sebuah profesi yang penuh tantangan. Dalam suatu kesempatan ia disanjung demikian hingga, namun dalam kesempatan lain ia dihujat. Apabila berita yang diturunkan terkesan datar, masyarakat beranggapan wartawannya sudah melempem. Bila suatu laporan turun dengan anilisis tajam, menyajikan data konkrit, banyak pihak akan tersinggung.

Tahu dan berani merupakan modal awal seorang pewarta. Untuk tahu ia perlu melakukan penelitian atau penelusuran masalah yang akan ia bahas. Tidak cukup di situ, setelah data yang ia peroleh sudah dianggap cukup perlu diadakan verifikasi dan cross check data. Dalam tahap akhir sebuah liputan adalah melaporkan berita. Lalu, selesaikah tugas seorang wartawan? Tentu tidak, justru dari sinilah tugas seorang jurnalis bermula. Jurnalisme tidak hanya berhenti pada peliputan dan laporan berita (reportasi) tapi lebih dari itu, pengaruhnya di ranah publik.

Kadangkala kita terlalu parsial menyoroti wartawan. Seringkali kita beranggapan bahwa pekerjaan wartawan adalah mencari berita untuk mengejar sensasi. Mengungkap aib orang lain dan menyebarkannya kepada publik. Padahal tidak sedikit wartawan yang menjadi kambing hitam. Bahkan, mempertaruhkan nyawa karena berita yang diturunkannya. Sebut saja Wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syarifuddin dan Koresponden GATRA, Ahmad Jakfar Busyiri.

Oleh karena itu perlu kiranya kita memahami sikap dasar seorang wartawan yang terangkum dalam beberapa hal berikut:
Wartawan sebagai panggilan hidup
Sikap kritis dan ingin tahu
Kecepatan dan ketepatan
Etos kerja yang tuntas
Lobi
Kompetisi sehat
Disiplin diri
Kerja terencana
Sebagai seorang pengamat
Chek dan recheck

Tugas dan kewajiban seorang wartawan dapat kita simpulkan dari sembilan elemen jurnalisme yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel, dapat diringkas sebagai berikut:
1)Kewajiban utama pada kebenaran.
2)Loyalitas utama pada masyarakat.
3)Disiplin verifikasi sebagai esensi jurnalisme.
4)Menjaga independensi dari objek liputan.
5)Wartawan merupakan pemantau independen terhadap kekuasaan.
6)Wartawan harus mampu menyediakan forum bagi publik untuk kritik dan pencarian kompromi.
7) Wartawan harus mampu membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.
8) Wartawan harus selalu membuat pemberitaan yang proporsional dan komprehensif.
9) Wartawan harus menguji kesadaran personalnya.

Dalam melakukan tugasnya, seorang wartawan memperoleh sejumlah keistimewaan. Antara lain:
Mereka dilindungi oleh undang-undang kebebasan menyatakan pendapat.
Mereka berhak menggunakan bahan/dokumen/pernyataan publik.
Mereka dibenarkan memasuki kehidupan pribadi seseorang dan para tokoh publik (public figure) demi memperoleh informasi yang lengkap dan akurat -- karena mereka mewakili mata, telinga serta indera pembacanya.

Wartawan bukanlah dewa yang pantang berbuat salah, sengaja ataupun tidak, oleh karena itu masyarakat punya hak untuk memberikan kritik dan koreksi berdasarkan hal-hal berikut:
Kode etik
pasal Pencemaran (Libel): hukum-hukum yang menyangkut pencemaran nama baik
Hukum tentang hak pribadi (Privacy)
Panduan tentang selera umum

Demikianlah, jurnalisme memang suatu hal yang penting karena tidak hanya berfungsi sebagai informer, tetapi juga interpreter, wakil publik dan berperan jaga. Tentunya masih banyak hal lain dan problematika pers yang terus berkembang seiring tuntutan zaman, seperti by line dan fire wall yang hingga kini jarang kita temukan dalam pers kita. Tapi, kita harus memahami jurnalisme dengan menegakkan keadilan dan menyuarakan kebenaran di atas segalanya.

Jurnalis dan fakta kasus

Di Jakarta, bunuh diri dengan cara terjun bebas dari ketinggian sebuah gedung jangkung kini seperti menjadi modus favorit. Mereka –pelaku bunuh diri- memilih mal atau apartemen sebagai tempat untuk mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri, melayang deras, dan bruk. Kita lantas berseru: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Akibat ‘pilihan’ cara mati seperti itu, si pelaku mendadak terkenal. Sebab, ‘aksi’ tersebut sangat mudah diketahui publik karena berlangsung di tengah keramaian. Maka, dalam waktu singkat, kabar tersebar cepat menyebar di berbagai media.

Tersebutlah, ada yang memilih terjun bebas dari lantai lima sebuah mal dan terjatuh di lantai satu, di saat pengunjung masih ramai. Ada pula yang terjun bebas dari lantai 27 di sebuah apartemen dan ditemukan meninggal di lantai 7, ketika jam masih menunjuk pukul 15.00.

Pilihan bunuh diri di tengah keramaian –tentu saja- cukup mengherankan. Sebab, di masa lalu, bila ada orang bunuh diri cenderung dengan cara yang meminimalkan jumlah orang bisa mengetahuinya. Itu dilakukan lantaran malu jika diketahui banyak orang sehingga memilih melakukannya di tempat-tempat tersembunyi. Tapi, sekarang?

Berdasarkan keterangan dari orang-orang dekat si pelaku, terdapat macam-macam pemicu aksi tak terpuji itu. Ada yang diperkirakan karena kesulitan keuangan. Di kasus lain, ada tengara karena tak tahan menderita atas sakit yang menderanya dan tak kunjung sembuh. Di kasus berbeda, si pelaku bersikap nekat -konon- setelah permintaan kawin dirinya tak segera dipastikan kapan akan dikabulkan oleh orangtuanya.

Kita harus mewaspadai gencarnya pemberitaan di seputar aksi bunuh diri sebab hal itu bisa menjadi ‘penyakit menular’ yang sangat berbahaya. Lihat –misalnya- Psikiater Nalini Muhdi mengingatkan kita dengan menulis “Bunuh Diri Itu Menular” di Kompas19/12/2009. Bahwa di sekitar akhir abad kedelapan belas, Goethe, seorang penulis kesohor, bertutur dalam novelnya, The Sorrows of Young Werther. Dikisahkan, sang tokoh protagonis, Werther, sengaja mengakhiri hidup karena cintanya kepada tokoh utama perempuan gagal. Dalam waktu singkat setelah novel tersebut beredar, tindakan Werther ditiru oleh banyak pembacanya dengan memakai pakaian dan cara mati yamg serupa dengan yang dilakukan Werther, sementara buku novel tersebut berada di sampingnya. Dramatis!

Banyak bukti –lanjut Nalini Muhdi - memperjelas bahwa mereka terinspirasi oleh kisah sang tokoh dalam novel tersebut. Kejadian yang sempat menggemparkan bumi Eropa saat itu sehingga novel tersebut lantas dilarang beredar. Dari situlah muncul istilah The Werther effect, atau bunuh diri yang menjalar cepat bak penyakit menular (contagious). Mereka mengimitasi apa yang dibaca, dilihat, atau didengar, terutama bagi individu yang rentan.

Penilaian Nalini Muhdi soal bunuh diri sebagai ‘penyakit menular’ senada dengan pengamatan Komnas Perlindungan Anak. Lembaga yang disebut terakhir itu merilis, bahwa di tahun 2006 hingga akhir 2009, 68 persen tayangan di 13 stasiun televisi mengandung kekerasan. Selain karena dipengaruhi minimnya komunikasi yang terbangun antaranggota keluarga dan kontrol diri yang lemah sehingga memicu meningkatnya tingkat stres pada warga masyarakat, kasus-kasus bunuh diri akhir-akhir ini diduga juga karena faktor tayangan TV yang mengandung kekerasan. Ditambah lagi arus sekularisasi, kapitalisasi semakin menggeser nilai keislaman di media cetak hingga media televisi. "Awalnya karena masalah ekonomi, hubungan yang tidak harmonis antaranak, suami dan istri, siswa kepada guru," tutur aktivis Komnas Perlindungan Anak Kak Seto Mulyadi.

Menurut Seto, tayangan televisi-lah yang paling fatal mempengaruhi pikiran masyarakat. Tayangan-tayangan ekstrim seperti terjun dari ketinggian, menusuk diri, dan sebagainya, telah mengalirkan pengaruh yang sangat kuat kepada masyarakat, yang pada dasarnya telah terjangkit stres untuk melakukan hal-hal serupa.

Apalagi kemudian –kata Seto- jika yang bersangkutan sedang dalam keadaan bingung, putus asa, dan merasa dalam keterasingan dan ketertekanan, maka tindakan yang tak masuk akal seperti bunuh diri bisa menjadi pelarian penyelesaian masalahnya. Seto mengimbau agar masyarakat tidak terjebak tenggelam dengan masalahnya sendiri. Karena sibuk hanya mencari uang, misalnya, anak yang harusnya juga mendapat perhatian dan butuh hubungan komunikasi, menjadi terbengkalai.

Sangat Terlarang!

“Hidup adalah perjuangan yang tak pernah selesai”, demikian motto hidup yang dipegang oleh banyak orang. Ini sangat bisa kita mengerti, sebab di antara warna hidup itu adalah bagimana cara kita dalam mengatasi berbagai ujian/ cobaan yang datang silih berganti sampai maut menjemput kita. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Tapi, betapapun berat –bahkan sangat berat- cobaan yang kita hadapi, hendaknya kita hadapi dengan sabar. Sebab, bersama shalat, sabar adalah senjata kaum beriman dalam menyelesaikan masalah. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)… . (QS Al-Baqarah [2]:214). Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS Al-Baqarah [2]: 45).

Yakinlah, jika kira berusaha mengatasi masalah dengan selalu tetap menjalankan syariat Allah, kita akan dapat mengatasinya. Sebab, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah [2]: 286). Yakinlah, tak akan pernah ada kesulitan yang tak pernah berakhir, sebab, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah 94: 6)

Oleh, karena itu menghindari –atau lari- dari masalah adalah perbuatan yang sama sekali tak beralasan. Dan –lebih tak beralasan lagi- jika mengambil keputusan untuk bunuh diri. Dan, janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An-Nisaa’ [4]: 29). Dan, janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (QS Al-Baqarah [2]: 195).

Dengan demikian, sadarlah, bunuh diri samasekali bukan pilihan untuk menyelsaikan masalah!

Azab Menanti

Pengetahuan tentang keseluruhan ajaran Islam memang harus kita miliki. Dengan tahu dan paham insyaAllah kita menjadi terbimbing secara benar dalam meniti kehidupan ini. Berikut ini telaah ringkas yang mudah-mudahan bisa menjadi pegangan kita dalam bersikap, bahwa bunuh diri sangat terlarang.

Islam sangat menghargai jiwa manusia. Tak boleh kita membunuh tanpa haq, sebab yang demikian itu termasuk salah satu dosa besar yang Allah mengancamnya dengan adzab yang pedih di neraka jahanam. Allah murka jika ada hamba-Nya yang melakukan pembunuhan tanpa haq. Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam dia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya (QS An-Nisaa’ [4]: 93). Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan, sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi (QS Al-Maaidah [5]: 32).

Terlihat, Islam menilai manusia sangat tinggi. Maka, apapun alasannya, perbuatan membunuh (termasuk bunuh diri) tidak ada landasannya, seperti petunjuk di atas.

Islam melarang keras bunuh diri. Pelakunya tergolong musyrik dan kekal di neraka. Apapun alasan dan cara membunuh diri (seperti dengan meminum racun, gantung diri, terjun bebas, melukai diri, dan lain-lain) hukumnya adalah haram dan pelakunya akan kekal di dalam neraka.

Rasulullah SAW pun mengancamnya dengan adzab di neraka dan kekal di dalamnya, karena hal itu bertentangan dengan wajibnya bersabar ketika tertimpa musibah dan bencana seperti yang telah diperintahkan oleh Allah.

Sungguh, pelaku bunuh diri siksaannya sangat pedih. Dari Abu Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: ”Barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka tangannya akan menusuk-nusukkan besi itu ke perutnya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya. Barang siapa meminum racun untuk membunuh dirinya, maka dia meneguk racun tersebut di neraka jahanam kekal di dalamnya. Dan barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya maka dia akan menjatuhkan dirinya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya" (HR Bukhari-Muslim).

Perhatikan pula ilustrasi di bawah ini. Misal, ada seorang pejuang Islam ditangkap dan ditawan musuh. Dia lalu mengalami intimidasi dan penyiksaan yang luar biasa tak tertahankan. Situasi yang seperti itu tak jarang memunculkan pikiran negatif seseorang untuk lebih baik segera mati dengan cara bunuh diri ketimbang hidup dengan menanggung derita yang menyayat.

Jika pikiran negatif itu lalu diwujudkan denganh membunuh dirinya sendiri, maka tindakan seperti ini jelas haram. Berdasar riwayat berikut ini kita bisa mengambil pelajaran. Pernah ada seseorang yang terluka, kemudian dia membunuh dirinya. Maka, Allah pun berfirman: ‘Hamba-Ku telah meminta kepada-Ku menyegerakan (kematian) dirinya, maka Aku haramkan surga untuknya (HR Bukhari).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An-Nisaa’ [4]: 29).

Jagalah Keluarga!

Islam mengajarkan agar kita benar-benar bisa menjaga diri dan keluarga kita dari kemungkinan terseret ke neraka. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At-Tahrim [66]: 6).

Maka, oleh karena bunuh diri adalah dosa yang tak terampuni (alias pasti masuk neraka), maka kita wajib melakukan usaha-usaha agar diri dan keluarga kita terjauh dari pikiran untuk memilih bunuh diri sebagai ”pilihan jawaban” di saat-saat menghadapi masalah yang kita anggap superberat.

Ayo saling jaga. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. []

Rabu, 30 Desember 2009

tentang Jurnalis

Tentang Media Bersama
Mediabersama.com adalah situs jurnalisme warga yang menghimpun, mengelola dan menyebarkan berbagai informasi penting dari dan untuk publik. Tujuan utamanya, selain untuk mengimbangi dominasi informasi media-media mainstream, mengisi item-item infomasi yang tidak diberitakan oleh media-media mainstream, juga untuk melibatkan publik dalam memproduksi informasi dan pengetahuan yang berguna bagi publik itu sendiri. Ketergantungan publik terhadap pemberitaan media akan memperlebar ruang hegemoni, dari atas ke bawah. Suka atau tidak suka, publik harus menerimanya sebagai kebenaran. Padahal media juga mempunyai kecenderungan salah.

Kelahiran Mediabersama.com berawal dari pembicaraan beberapa orang peserta diskusi online Rumahkiri.net sekitar akhir tahun 2007. Gagasan yang berkembang waktu itu tidak secara khusus diarahkan untuk membangun situs jurnalisme warga, tapi menyadari pentingnya keberadaan media alternatif progresif yang dikelola sungguh-sungguh dan menggunakan prinsip-prinsip jurnalisme.

Kelemahan media-media alternatif yang ada justru ada pada penyajian, tata bahasa yang tidak populer, sehingga pesannya sulit dicerna oleh publik. Padahal materi-materi yang dimuat di media alternatif banyak yang jauh lebih penting ketimbang rumor di parlemen atau pidato politik yang mengumbar janji. Prinsip jurnalisme (akurat, faktual, bertanggungjawab, dan memenuhi unsur 5W+1H—What, Who,When, Where, Why dan How) sangat penting untuk menanamkan kepercayaan publik.
Melihat pesatnya teknologi juga perlu kita manfaatkan. Daya jangkau luas, efisien dan bisa melibatkan publik untuk memproduksi berita, dasar bagi tumbuhnya jurnalisme warga. Tentunya dengan semaksimal mungkin memberi pemahaman kepada publik pentingnya membuat berita dari apa yang dialami dan dilihat serta menyuarakan aspirasi, pendapat dan ide.

about Jurnalistik

Untuk Siapa Sebuah Berita Ditulis?

Untuk kepentingan apa dan siapakah sebenarnya sebuah berita ditulis?
Berawal dari pencurian mobil oleh seorang laki-laki, beberapa bulan yang lalu. Mobil itu milik Brigitte van de Voorde. Pencuri mobil itu akhirnya tertangkap dan tentu saja diadili. Sayangnya, hakim memutuskan untuk membebaskan sang pencuri mobil. Keputusan ini dikeluarkan antara lain justru atas permintaan Brigitte van de Voorde sebagai korban.
Tapi anehnya, Michael Bennett, wartawan The West Australian yang meliput sidang itu justru yang tidak terima dengan putusan bebas sang hakim.
Di luar gedung pengadilan, wartawan koran itu mewawancarai Brigitte van de Voorde.
Michael Bennett : Bu, akan adil jika Anda sebagai korban marah atas keputusan ini.
Brigitte van de Voorde : Tidak... saya tidak marah...
Michael Bennett : Kalau gitu, bagaimana kalau kita tulis Anda kecewa karena pencuri mobil itu tidak dipenjara.
Brigitte van de Voorde : Tidak. saya justru tidak mengharapkan dia dipenjara.
Michael Bennett : ????
Tapi di otak Bennett, sebagai wartawan, justru yang paling diharapkan adalah sebuah kemarahan.
Sore harinya, Bill Hatto, fotografer The West Australian datang ke rumah Brigitte van de Voorde untuk mengambil foto perempuan itu di depan mobilnya yang sempat dicuri.
Terjadi dialog semacam ini.
Bill Hatto : Saya ingin Anda terlihat begitu marah....
Brigitte van de Voorde : Saya tidak marah, semua ini berakhir menyenangkan.
Bill Hatto : ????
Jepret...jepret....jepret...Sang fotografer mengambil foto dari semua sudut, berupaya menampakkan ekspresi marah perempuan itu. Tapi dia tak pernah bisa karena Brigitte selalu tersenyum.
Sayangnya, otak fotografer ini juga sudah sejalan dengan sang wartawan. Pokoknya sebagai korban kejahatan, Brigitte van de Voorde harus MARAH.
Maka esok paginya keluarlah berita beserta foto perempuan itu besar-besar. Judulnya : KORBAN PENCURIAN MOBIL MARAH KARENA HAKIM MEMBEBASKAN TERDAKWA. Beritanya, tentu saja berisi kemarahan.
Lengkap dengan fotonya yang diberi caption : KECEWA;BRIGITTE VAN DE VOORDE MENYATAKAN DIA TIDAK TERIMA KARENA PENCURI MOBILNYA LOLOS DARI HUKUMAN PENJARA. Padahal Brigitte nampak tersenyum dalam foto itu. Dia tak menuruti permintaan sang fotografer untuk menampakkan kemarahan.Buntutnya, Brigitte mengajukan komplain ke The West Australian dan menuntut koran itu memuat ralat berita di halaman pertama, dimana berita itu muncul sebelumnya.Esok paginya muncul berita permintaan maaf dari The West Australian di halaman 3.
Di sidang terakhir kasus ini, hakim ikut memberikan komentar. Menurutnya, Brigitte telah menjadi korban dua kejahatan, yaitu pencurian mobil dan kebohongan media.
Jadi, untuk siapa dan kepentingan apa sebenarnya wartawan menulis sebuah berita?

Pertarungan AM-FM

Waktu kecil, saya disuguhi adegan menarik dalam dunia radio, yaitu mulai hilangnya jalur AM dan pindah ke FM. Nggak ngetren kalau tidak mendengar FM. Jalur ini suaranya lebih bagus, jernih, enak di telinga. Beda sekali dengan AM yang kresek-kresek....Sejak kenal jalur FM, bisa dibilang saya sama sekali tidak mendengarkan radio AM. Setahu saya, jika tak salah, radio-radio pun beralih ke FM karena tidak ingin ditinggalkan pendengarnya. Saya bahkan tidak tahu, apakah di Jogja masih ada radio AM mengudara saat ini.
Tapi ternyata tidak di luar negeri. Di Amerika radio AM awet dan jumlah pendengarnya stabil, bahkan cenderung naik secara umum. Fenomena paling dekat adalah Rush Limbaugh, penyiar di jaringan Premiere Radio Networks yang kini jadi corong suara Republikan Amerika. Meski Rush Limbaugh sudah jadi penyiar sejak 1970-an, tapi popularitasnya betul-betul mencapai puncak di era Obama ini. Dan Limbaugh siaran di jalur AM.
Begitu pula di Australia, radio AM tak kalah bersaing. Dalam survei yang berakhir Maret 2009 lalu, radio AM unggul hampir di semua kota besar Australia, kecuali Brisbane dan Perth. Di Sydney misalnya, nomor satu adalah 2GB sedang di Melbourne ABC774. Dan untuk kategori penyiar paling kesohor di Australia, Alan Jones bertahun-tahun tidak tergantikan. Dia memandu acara pagi hari paling banyak di dengarkan di Australia di radio 2GB.
Baik Rush Limbaugh maupun Alan Jones mencatatkan pendapatan jutaan dollar setiap tahunnya dari mengoceh di radio.
Posisi radio AM di dua kota terbesar yaitu Sydney dan Melbourne tak pernah tergantikan selama bertahun-tahun. Artinya, selera pendengar radio juga tidak banyak berubah. Acara jalur AM biasanya lebih banyak omongan dan sedikit lagu, beda dengan FM yang komposisi lagu dan omongan biasanya seimbang, atau mungkin lebih banyak lagu-lagunya. Radio AM tak mungkin mengandalkan lagu karena kualitas suaranya lebih jelek.
Alan Jones membuktikan bahwa pendengar, setidaknya di kota-kota besar di Australia memang lebih suka menikmati omongannya dari pada mendengar lagu-lagu. Sepanjang siaran, Alan JOnes memang ngoceh melulu. Entah bagaimana dia mengumpulkan semua bahan ocehan itu, mungkin ada tim yang kuat di belakangnya.
Ocehan itu kadang kasar, tapi orang menyukainya. Datanya kuat, analisisnya tajam, dan diselingi humor yang pas. Tiga jam berbusa-busa, tapi pendengar tetap menunggu Alan Jones siaran tiap pagi. Alan Jones dulu siaran di 2UE, tapi kemudian dibajak oleh 2GB dengan janji gaji jauh lebih tinggi. Anehnya, pendengar ikutan pindah dari 2UE ke 2GB. Rupanya mereka tidak fanatik dengan stasiun radio, mereka adalah penggemar setia Alan Jones yang akan mengikuti kemanapun penyiar ini pindah siaran. Kepindahan ini juga membawa serta pemasang iklan yang meninggalkan 2UE agar tetap bisa beriklan di acara Alan Jones di 2GB.
Dan memang benar, Alan Jones membawa berkah besar bagi 2GB.Dan dominasi jalur AM sampai saat ini masih sulit dipatahkan. Perolehan iklan radio AM jauh melampaui radio FM.
Barangkali, radio-radio AM di Jogja bisa bangkit dengan cara yang sama.


Jurnalis, Penipu, Deadline

Ini adalah kisah, dimana pengalaman jurnalistik yang luas dan senioritas kadang kalah oleh ketergesaan akibat tenggat waktu. News Limited, penerbit besar yang antara lain menaungi The Telegraph dan The Sunday Telegraph terancam gugatan besar. Editornya bahkan terancam dipecat.Kisah bermula dari kontak Jack Johnson, seorang pensiunan tentara Australia dengan paparazzi Jamie Fawcett. Johnson menawarkan sejumlah foto bugil seorang gadis yang dia katakan bernama Pauline Hanson. Fawcett tertarik karena foto itu beraroma duit besar. Pauline Hanson sedang maju dalam pemilihan senat negara bagian Queensland. Tentu saja, jika benar itu foto Pauline Hanson, aroma politik yang sedang hangat akan menambah nilai jualnya. Johnson mengatakan, foto itu dia ambil di sebuah hotel di Queensland.Fawcett kemudian mengirim Frank Thorne, seorang jurnalis freelance di Sydney untuk mewawancarai Johnson mengenai detil foto itu, termasuk dimana dia memotret sang perempuan. Dalam wawancara 45 menit, Johnson antara lain juga menyebut bahwa dia juga memiliki foto setengah bugil istri perdana menteri Australia.Thorne langsung mengakhiri wawancara dengan Johnson dan yakin bahwa persiunan tentara itu pembohong. Wawancara dilakukan Jumat, 13 Maret.News Limited, penerbit koran kawakan dengan jurnalis-jurnalis hebat itu, tidak melakukan apa yang Thorne lakukan, re-cek.Fawcett, sang paparazzi, mengirim e mail berisi foto Pauline Hanson tanggal 14 Maret. Dalam waktu kurang dari dua jam, The Sunday Telegraph merespon dan tertarik membeli foto itu. Dan koran The Sunday Telegraph memasang besar-besar foto-foto itu, Minggu 15 Maret.Selama seminggu persoalan ini bergulir, sampai kemudian semua tahu bahwa foto bugil perempuan itu kemungkinan besar diambil dari situs porno Rusia. Dan News Limited terancam gugatan ratusa ribu atau bahkan jutaan dollar Australia.Neil Breen, Editor edisi minggu itu terancam dipecat.
Media Watch mengatakan, ini adalah salah satu contoh paling spektakuler dari keburukan jurnalisme. Yaitu, jurnalisme yang terburu-buru, tanpa cek silang, tanpa invstigasi mendalam, hanya karena dikejar tenggat waktu. Foto itu ditawarkan hari Jumat yang redaksi hanya punya satu hari untuk meneliti. Tapi, waktu satu hari itu dinilai cukup jika memang jurnalis mau melakukan penelitian mendalam.Pertanyaan mendasar yang harus disampaikan editor foto adalah: Dimana negatif foto perempuan bugil itu?Foto itu diambil 30 tahun lalu ketika Pauline Hanson masih muda. Waktu itu, tentu belum ada teknologi foto digital dan semua foto masih memakai negatif film.Sayang tidak ada pertanyaan semacam itu dari redaktur foto.Redaksi foto The Sunday Telegraph hanya melakukan pengecekan, apakah foto itu merupakan rekayasa digital atau bukan. Dan tentu saja bukan, karena foto itu diambil dari situs porno Rusia, yang kemungkinan kemudian dicetak dan di-scan lagi sebelum dikirim ke redaksi.Bahkan, Padahal News Limited sudah membayar 15 ribu dollar untuk foto itu, alias sekitar 120 juta rupiah. The Sunday Telegraph bahkan tidak mengecek, fakta mengenai hotel tempat pengambilan foto itu. Belakangan terungkap, hotel yang disebutkan Johnson sebagai tempat pemotretan bahkan belum berdiri ketika itu.
Ini adalah kisah jatuhnya jurnalis-jurnalis berpengalaman karena satu frasa yang menakutkan kita semua: Deadline.

Sunday, May 3, 2009

Koran Baru: Masa Depan yang Diperdebatkan

Tahun 2054, surat kabar tidak lagi menggunakan kertas sebagai medianya. Berita, gambar dan iklan telah diantarkan ke pembaca melalui gelombang maya. Pembaca menerimanya dengan perangkat sejenis lap top canggih yang super ringan, super kuat batereinya, sehingga bisa ditenteng kemanapun. Dengan perangkat generasi terbaru ini, kita bisa membaca koran format masa depan dimanapun dengan nyaman, termasuk di kereta yang penuh sesak. Jangkauan internet nirkabel, ketika itu telah menyelimuti seluruh tempat di bumi yang dihuni manusia.
Jangan mengeryitkan dahi dahulu. Gambaran itu hanyalah rekaan sutradara film Steven Spielberg dalam salah satu karya apiknya, Minority Report yang dilakoni aktor utama Tom Cruise. Dalam salah satu adegan, Tom Cruise digambarkan sedang membaca koran USA Today dengan perangkat canggih itu dalam kereta Metro. Surat kabar masa depan tidak akan lagi menggunakan kertas karena mahal dan semakin langkanya kayu. Surat kabar juga tidak lagi memiliki istilah harian, karena beritanya diupdate setiap saat. Wartawan tidak memiliki tenggat waktu tengah malam, karena setiap detik adalah tenggat waktu sebuah berita.
Entah akan seperti itu atau tidak, masa depan media massa , termasuk format, isian, hingga sisi bisnisnya masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Banyak perkiraan menyatakan, era surat kabar cetak akan segera berakhir dengan berkembangnya format digital. Sebuah perusahaan bernama E Ink Corp, saat ini sedang mengembangkan teknologi baru untuk format surat kabar di masa depan itu. CEO nya, Russ Wilcox, pernah mengatakan, format surat kabar baru seperti yang tergambar dalam film Steven Spielberg itu tidak akan muncul tahun 2054, tapi tahun 2015! Jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumya karena pesatya perkembangan teknologi. E Ink sendiri saat ini sedang mengembangkan layar monitor tipis yang berfungsi serupa kertas untuk media cetak.
Untuk Indonesia , kita boleh memundurkan tahun itu sekitar 10-20 tahun karena kemampuan teknologi yang rendah. Tahun 2015, mungkin pengguna internet di Indonesia yang mampu terus online setiap saat belum sampai 25 persen penduduk. Tahun itu, yang hanya tujuh tahun lagi, jelas masih diisi dengan carut marut persoalan bangsa dan tidak jauh dari politik. Kalau ingin cukup percaya diri, kita mungkin berani mengatakan bahwa teknologi itu akan mampu diadaptasi oleh lebih dari separuh penduduk Indonesia sekitar tahun 2040-an.
Gambaran mengenai masa depan surat kabar itu bisa menjadi bahan renungan ketika kita kembali memegang halaman koran baru ini. Koran yang belum sebulan lahir di Jogja, dan menambah sesak peredaran media massa di kota kecil dengan jumlah pembaca yang kecil pula. Tentu saja banyak yang bertanya, apa yang bisa diharapkan dari Jogja, ketika seseorang atau satu pihak mau menaruh modal besarnya di bisnis media di kota ini. Pengalaman membuktikan, surat kabar lahir dan mati seperti mengikuti siklus angin dan gerak hantu; datang berderu, mengagetkan dan kemudian pergi begitu saja sebelum orang sempat memahat namanya.
Ada beberapa catatan yang bisa dijadikan pegangan, bahwa kita layak optimis dengan munculnya surat kabar baru di daerah. Catatan ini merupakan analisa terharap perkembangan surat kabar di tingkat global, dengan prasyarat yang mengikutinya.

Dunia dan Ruang Sempit
Dunia bergerak ke luar mengikuti naluri manusia. Teknologi merobohkan pagar pembatas hingga jarak dan waktu tidak lagi menjadi persoalan. Orang Eropa datang ke China untuk berobat ke ahli akupuntur, sebaliknya banyak pasien dari Asia antri melakukan operasi di rumah sakit ternama Amerika. Negara menjadi sesuatu yang tidak penting karena kita menganggap diri sendiri sebagai warga dunia. Apalagi, Planet Mars sudah dijelajahi, sehingga mungkin suatu ketika kita akan menelepon ke planet Merah itu dengan salam pembuka: “Halo saya Fulan dari Bumi”.
Sebaliknya, media massa justru semakin menyempit menghindar dari tren dunia yang mengglobal. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, surat kabar harian di Amerika, Eropa dan Australia terus mempersempit area cakupan beritanya agar mampu memberikan porsi yang lebih besar bagi wilayah dimana dia terbit. Washington Post kini bahkan 80 persen isinya adalah berita lokal seputar ibukota Amerika. Demikian pula dengan Sydney Morning Herald (SMH) yang sangat pelit dengan berita internasional. Kalau boleh dibilang, SMH benar-benar koran Sydney. Liputan nasionalnya sangat sedikit, sehingga tak ada banyak berita dari kota lain seperti Melbourne , Brisbane , bahkan Canberra yang merupakan ibukota negara.
Media di Indonesia sedang menuju ke arah itu meskipun sangat pelan dan terkesan ogah-ogahan. Baik pemilik modal maupun pengelolanya masih lebih suka menyebut korannya sebagai media nasional. Kelihatan lebih mentereng, lebih bergengsi, meski ongkos dan resiko ambruknya juga jauh lebih besar. Ada pula grup koran yang mempelopori terbitnya edisi lokal, tapi tetap pula yang dijual di halaman depan adalah edisi “persatuan” yang disebut dengan istilah edisi nasional. Mereka belum berani memajang koran edisi lokalnya sebagai daya tarik pembaca di kota-kota kecil.
Namun, itu adalah langkah maju yang sepatutnya diapresiasi. Tidak seperti gaya hidup yang justru mengglobal, masa depan surat kabar justru berada pada keberaniannya untuk terus masuk ke arah lokal. Pembaca akan semakin tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar kita, bukan apa yang berada di luar jangkauan. Walaupun dalam beberapa isu, surat kabar daerah masih sering terjebak dengan berita-berita “lokal Jakarta ” tapi dianggap isu nasional. Saya sering heran, banyak koran lokal dulu ikut ribut menulis tentang busway di Jakarta . Mirip dengan liputan televisi nasional yang hampir setiap hari memuat berita tentang busway. Padahal, pembaca atau penontonnya mungkin menggumam: “Busway..? Emang gue pikirin.”
Jadi, kalau ada koran baru terbit di daerah dan memproklamirkan diri sebagai media lokal, maka dia sudah berada di arah yang benar sejak lahir.

Mendorong Bisnis, Melawan Korupsi
Sayangnya, arah yang benar sejak lahir itu tidak cukup untuk membuat sebuah Koran bisa hidup. Media massa adalah juga bentuk bisnis. Untuk bisa hidup, dia harus memutar uang dan menghasilkan laba. Meskipun dibebani berbagai slogan berat, misalnya dianggap sebagai salah satu pilar demokrasi, media tetaplah memakai hitung-hitungan uang. Berapa yang ditanam, berapa yang masuk setiap bulannya, berapa waktu yang dibutuhkan untuk balik modal, hingga pertimbangan logis apakah sebagai bisnis, sebuah media akan mampu terbit lebih dari setahun atau tidak.
Kalau boleh jujur, jaring laba-laba keuangan di Indonesia adalah persoalan besar bagi kehidupan sebuah media. Uang yang menumpuk di Jakarta , menyebabkan daerah miskin modal, sulit berkembang, terbatas sumber dayanya dan tidak memiliki daya dukung. Maka tidak mengherankan jika media lebih banyak terpusat di Jakarta untuk mendekat ke sumber dana. Lahirlah kemudian persaingan yang teramat keras, untuk mencoba merebut porsi lebih besar di ibukota. Media massa di daerah seperti menjadi penonton saja dalam pertarungan antar Goliath ini.
Selain minimnya daya dukung bisnis, dalam hal ini potensi iklan, media massa di daerah juga dibebani rendahnya minat baca masyarakat yang diperparah oleh rendahnya daya beli. Untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti beras, minyak, atau membayar tagihan bulanan saja sudah susah payah, apalagi harus membaca koran.
Karena merupakan beban bagi media daerah, maka dua persoalan itu juga wajib diselesaikan sendiri, terutama melalui kebijakan masing-masing media. Setiap daerah sebenarnya memiliki daya dukung cukup, minimal untuk mendukung terbitnya lebih dari dua koran lokal. Meskipun ini hanya berdasar asumsi, tapi kenyataan bahwa di setiap kota besar ada lebih dari satu koran yang terbit sudah menjadi bukti dari asumsi itu. Namun, sekali lagi, kondisi itu tidak ideal karena media daerah akhirnya hanya bisa hidup, tetapi tidak cukup sehat untuk menciptakan jaminan bagi dirinya sendiri agar bisa terbit dalam jangka waktu lama.
Karena itu, tantangan besar bagi media daerah baru, seperti halnya Harian Jogja, adalah terus mengupayakan desentralisasi, terutama dalam bidang keuangan. Uang yang menumpuk di Jakarta harus dibawa ke daerah, agar tersedia cukup sumber dana bagi pertumbuhan wilayah. Media lokal harus mendorong keberanian pemerintah lokal untuk bersuara keras menuntut hak pengeloaan keuangan, termasuk menjadi kompor agar lahir terobosan baru di daerah.
Media daerah juga harus lebih peduli terhadap isu-isu pemberantasan korupsi. Daerah yang kental dengan korupsi membuat bisnis tidak berjalan sehat dan pemodal baik-baik cenderung menghindar. Padahal, bisnis adalah sumber utama iklan dan pemodal yang baik, biasanya percaya bahwa bisnis harus didukung oleh iklan. Pemodal yang korup biasanya tidak beriklan, karena dia merasa bisnisnya akan berjalan baik dengan suap, bukan dengan iklan.
Baru-baru ini, televisi ABC memuat sebuah laporan mengenai kasus korupsi di kota tambang terkenal, Wollongong di selatan Sydney , Australia . Kasus korupsi di kota yang punya hubungan khusus dengan Jogja itu dibongkar oleh media lokal disana, melalui laporan-laporan yang tidak terbantahkan. Wartawan surat kabar lokal yang diwawancarai ABC mengatakan, pengungkapan kasus itu penting agar bisnis berjalan baik. Jika bisnis di kota ini baik, kata wartawan itu, media lokal akan terus bisa hidup dan pada gilirannya, wartawan tidak kehilangan pekerjaan. Logika yang sangat tepat meski terkesan didasarkan atas kepentingan sempit.
Jadi, semua kini berada pada kendali redaksi koran baru di Jogja ini. Sebuah pondasi yang kokoh harus dibangun, dan pondasi itu adalah bisnis dan wilayah yang sehat. Pada gilirannya, media daerah akan memetik hasilnya, meski mungkin membutuhkan waktu lama. Pertanyaan terakhir adalah; seberapa lama modal yang ditanam mampu menjamin niat baik itu terwujud, karena pada gilirannya banyak media gugur di tengah jalan karena kehabisan stamina. Semoga tidak terjadi pada Harian Jogja.
Selamat menambah warna baru kota tercinta.

Menyaksikan Koran Mati Pelan-Pelan

Beberapa waktu lalu saya kembali membaca e mail mengenai percikan persoalan buruh pers dengan sang majikan. Kali ini menimpa kawan-kawan di sebuah media di Jakarta, dengan induk perusahaannya. Ringkasan e mail itu adalah, karena sejumlah masalah termasuk tentunya krisis ekonomi, induk perusahaan mereka berniat merampingkan salah satu medianya. Tentu saja, bola salju bergulir ke arah buruh pers-nya. Perampingan berarti PHK, dan PHK membuat orang menjerit sekaligus melawan. E mail itu adalah genderang, bahwa kawan-kawan di bawah grup usaha itu akan melawan.
Ini tentu bukan yang pertama. Seperti juga sektor bisnis yang lain, media juga kena getah krisis ekonomi maupun persaingan bisnis. Tapi ini adalah kenyataan yang harus dihadapi, dan kepada kawan-kawan di bawah grup media itu saya ucapkan selamat datang ke era baru matinya surat kabar cetak.
Kapan Newspaper akan kehilangan kata 'Paper' di dalamnya? Tentu saja ketika kertas tidak jadi medium penyampai sebuah berita. Dan semenjak internet lahir, sudah muncul analisis bahwa media baru ini akan menggantikan atau setidaknya menjadi pesaing kuat bagi media cetak.
Pijakan analisisnya sederhana. Harga kertas akan selalu naik, baik karena terbatasnya sumber daya alam untuk membuatnya, maupun karena kebutuhan manusia yang semakin tinggi. Di Barat, telah lama diterapkan budaya kertas yang memakan jutaan kubik kayu hutan. Mereka membungkus makanan dengan kertas, membawa belanjaan dengan kertas, bahkan menyudahi buang air besar juga dengan kertas.
Jadi koran harus bersaing dengan toilet dalam konsumsi kertas, dan lebih buruk lagi, koran bekas tidak mungkin menggantikan toilet tissue. Jadi tidak ada kemungkinan alih fungsi yang bisa menghemat pemakaian kertas dalam kasus ini.Semua maklum, ketika harga kertas naik, pengusaha media kalang kabut.
Di Indonesia, berapa kali harga koran naik ketika harga kertas koran juga naik? Berkali-kali bukan? Jadi, kita bisa andaikan bahwa di masa depan, harga kertas akan semakin naik dan tentu saja ongkos produksi koran semakin mahal.Dalam jangka pendek, seperti juga sektor yang lain, bisnis koran tak kebal terhadap krisis.
Jadi, kalau wartawan ramai memberitakan adanya PHK besar-besaran di sektor perbankan, tambang ataupun hospitality, mereka juga seharusnya mulai khawatir bahwa tidak lama lagi akan muncul pula berita PHK di sejumlah koran, dan mungkin dia sendiri sebagai penulis berita soal PHK itu juga akan kena PHK. Ini adalah rantai yang saling terkait karena media hidup salah satunya dari iklan, dan sektor-sektor itulah yang mengirim iklan. Jika sektor-sektor itu "sakit", maka dalam waktu tidak begitu lama, sektor media juga ikut tertular.
Dari "luar", bisnis media cetak juga mendapat serangan dari media online.
Anak saya pernah memperoleh buku baru dari Daily Telegraph selama dua minggu penuh dengan cukup membayar 2 dollar saja setiap harinya. Buku ini dicetak ekslusif, empat puluh delapan halaman berwarna. Ibaratnya, Daily Telegraph dan Sunday Telegraph membaginya gratis sebagai madu agar orang tertarik membeli koran karena kalau dibandingkan buku sejenis, mestinya harga buku itu sekitar 10 dollar. Dan ini bukan yang pertama, pernah ada seri DVD dan juga topi Australian Day.
Alasannya jelas. Koran tengah mati-matian mempertahankan pembaca tradisionalnya. Mereka berharap tiras tetap tinggi, dengan demikian pemasang iklan juga setia. Tak masalah memberikan bonus yang harganya jauh lebih mahal dari harga korannya sendiri.
Saya pernah mengikuti sesi pertemuan sejumlah mahasiswa master jurnalistik dengan beberapa wartawan Sydney Morning Herald. Salah satu yang dibicarakan adalah, bagaimana masa depan koran berhadapan dengan media online. Ada tersirat kekhawatiran juga bagi koran Sydney itu bahwa pembaca tradisional mereka cenderung menurun setiap tahun. Sejumlah alasan mendasari fenomena itu, misalnya, untuk apa membeli koran jika kita bisa membacanya secara online dan gratis. Atau, saya tidak berlangganan koran untuk mengurangi konsumsi kertas yang dibuat dari kayu di hutan. Atau, berita online datang lebih cepat, untuk apa menunggu koran yang baru datang besok pagi.
Di letter box di kawasan Sydney bagian utara, saya kerap kali menjumpai tulisan No Manly Daily Please!! Manly Daily adalah harian untuk kawasan utara Sydney dan sejauh ini dibagikan gratis ke rumah-rumah. Dan aneh, begitu banyak orang menolak koran gratisan itu yang bahkan sudah diantar ke depan rumah mereka. Belakangan saya juga mengamati, salah satu majalah bulanan yang datang ke rumah, ternyata makin lama makin tipis. Edisi bulan ini, dalam hitungan saya kira-kira tebalnya hanya separuh dari edisi tahun lalu.
Kalau begini keadaannya, wajar jika koran menjadi bisnis yang mungkin di banyak negara sudah memasuki usia senja. Dan internet yang semakin mudah dan semakin murah diakses menjadi salah satu penyebabnya. Survei menunjukkan, untuk setiap 1 persen penetrasi jaringan internet di suatu kawasan, akan mengakibatkan penurunan oplah koran hingga 0,2 persen.
Dan apa yang akan terjadi jika bisnis koran turun? Tentu saja salah satunya adalah perampingan. Krisis ekonomi dunia, semakin mempercepat fenomena PHK di sektor ini. Tengok saja, di tahun 2008 lebih dari 15.608 buruh media di Amerika Serikat di-PHK, dan di Bulan Januari 2009, setidaknya 2.308 pekerja media disana kehilangan pekerjaan.
Mungkin memang sudah waktunya semua harus berubah. Bandingkan saja dengan bagaimana cara orang menikmati musik. Awalnya kita mengenal piringan hitam dan gramaphone, yang kemudian mulai berubah ketika Phillip memperkenalkan kaset pada tahun 1963. Kejayaan kaset diwarnai dengan tape pemutar yang sebesar meja hingga sekecil Walkman. Era ini berakhir dengan berkembangnya CD mulai tahun 90-an, dan kemudian sekarang kita memakai MP3-MP4 player atau iPod.
Kita mengenal Acta Diuma, yang mungkin jadi media massa pertama karena lahir tahun 59 sebelum masehi, bahkan ketika kertas belum ditemukan. Tahun 1605, koran pertama kali lahir di Jerman ketika Johamm Carolus mencetak Relation. Tahun ini, umur koran sudah 403 tahun. Mungkin memang sudah cukup uzur dan tiba waktunya untuk pelan-pelan turun panggung. Akan ada teknologi baru yang menggantikan media yang sudah kita pakai lebih dari empat abad ini.
Dan, karena dunia di luar saja terus berubah, mungkin para wartawan mesti bersiap untuk juga berubah. Tentu bukan berubah profesi, cukup menggali kemungkinan untuk tetap bertahan di bidang ini.