Powered By Blogger

Rabu, 30 Desember 2009

Jurnalis and Manajemen pers

Jurnalistik, Tidak Sekedar Kebebasan Tapi Juga Manajemen Kerja Pers.


Setelah kebebasannya sempat diberangus oleh kekuasaan yang menancap sangat dalam ke seluruh lapisan dinamika masyarakat, kini kebebasan pers semakin terbuka. Implikasinya semakin menjamur pers dan jurnalistik media yang tidak mempunyai arah yang jelas dalam menciptakan “brand image” dari media itu sendiri. Patut dipertanyakan apakah mereka berada dalam jalur manajemen kerja pers yang baik atau sekedar euphoria dari kebebasan untuk menentukan sikap dunia jurnalistik dan pangsa pasarnya.

Jurnalistik berasal dari kata “Journal” atau “du jour” yang berarti hari, di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran yang tercetak. Dalam kamus bahasa Inggris, “journal” diartikan sebagai majalah, surat kabar, dan diary (buku catatan harian). Sedangakan “journalistic” diartikan kewartawanan (warta = berita, kabar). Karena kemajuan teknologi dan ditemukannya percetakan suratkabar dengan sistem silinder (rotasi), maka istilah “pers” pun muncul, sehingga orang lalu mengidentikkan istilah “jurnalistik” dengan “pers”, yang dalam bahasa Inggris (press) berarti mesin pencetak, mencetak,orang-orang yang terlibat dalam kepenulisan atau produksi berita, menekan, dan sebagainya.

jurnalis kenapa engga'

Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?

Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.

Jika Anda memutuskan masuk dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis waktu kita. Bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.

Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.

Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.

Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.

Langkah2 be Jurnalis

Langkah-langkah menuju sukses bidang jurnalistik


“Making a true decision means committing to achieving a result, and then cutting yourself off from any other possibility.” Tony Robbins

Keputusan merupakan langkah pertama menuju sukses di bidang jurnalistik. Jika Anda ragu dengan dunia jurnalistik, dunia media, dunia wartawan dunia radio, televisi, surat kabar dan online, Anda jangan coba-coba terjun. Penderitaan menunggu Anda jika tidak ada keputusan mengenai risiko dan keuntungan masuk dunia media massa.

Banyak diantara rekan yang belum mengambil keputusan mantap memasuki dunia ini sehingga di tengah jalan mundur. Tidak cocok untuk saya, lalu beralih ke karir lain. Nah bagi Anda, yang ragu-ragu meski memiliki minat besar dan pengalaman banyak berkaitan dengan media, Anda harus putuskan dulu. Saya 100 persen komit di dunia jurnalistik.

Jika tidak ada keputusan tetap jangan harap Anda bisa berhasil. Anda akan menjadi bagian dari dunia massa, namun Anda berada di pinggiran. Anda tidak masuk kedalam top jurnalis di Indonesia maupun di dunia. Masih beruntung jika Anda berada di tengah-tengah antara yang memang sukses di karir ini dengan mereka yang maju mundur.

Bagi mereka yang berada di dalam lembaga media – radio, televisi, surat kabar, majalah atau online – namun masih ragu-ragu, maka tahun ini ambil keputusan, Anda mendalami seratus persen bidang Anda. Kalau Anda berkarir sudah lebih dari 3 tahun namun masih belum merasakan kemajuan secara profesional dan finansial, maka saatnya Anda mengambil keputusan. Maju seratus persen atau mundur seratus persen. Keputusan setengah hati akan berakibat penyesalan seumur hidup. Anda berada di dalam namun tidak profesional, tidak mumpuni dan tidak dapat berkembang.

Bagi mereka yang akan memasuki dunia media – sekarang peluang sangat luas – apakah masuk televisi, radio atau media cetak dan online, maka pelajari dulu sisi positifnya dan sisi kekurangannya. Hidup di media massa tidaklah glamour seperti dibayangkan. Pergulatana media massa adalah pergulatan dengan denyut masyarakat. Orang yang bekerja di media massa bagaikan lampu yang menerangi sekelilingnya. Apakah lampu Anda akan terang atau buram, tergantung bagaimana Anda mengungkapkan kreatifitas di dunia media.

Namun keputusan hendaknya bulat, tidak setengah-tengah. Anda masuk dunia jurnalistik dengan tekad bulat untuk sukses. Dan untuk mencapai sukses, Anda bersedia mempersiapkan diri dengan berbagai perangkat keahlian di bidang jurnalistik layaknya seorang prajurit di medan tempur.

menjadi Jurnalis siapa bilang sulit !

Belajar meliput dan menulis berita sama dengan belajar berenang; Anda hanya bisa jika punya keberanian masuk ke air dan mulai berenang. Menjadi jurnalis pun begitu. Kemahiran Anda meliput dan seberapa cemerlang tulisan Anda tergantung pada pengalaman dan kesungguhan Anda belajar. Selama Anda menghargai proses belajar menjadi jurnalis, selama itu pula pintu kesuksesan terbuka untuk Anda. Prinsip-prinsip berikut bakal membantu Anda mengawali karir di dunia jurnalistik — jika Anda setuju, cetaklah dan tempelkan di dinding kamar Anda.

Tak ada yang menodongkan pistol ke kepala dan memaksa Anda menjadi jurnalis. Anda datang atas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia tulis-menulis, mampu mengendus berita dan punya ikatan pada orang kebanyakan. Asah lah kerajinan menulis Anda, ketajaman akan berita dan kepekaan terhadap orang-orang di jalanan. Asah lah selalu dan terus-menerus. Menggerutu boleh, asal jangan terlampau banyak.

Pikirkan selalu pembaca, pirsawan dan pendengar Anda. Katakan pada mereka sesuatu yang baru, setiap hari. Itulah yang membuat mereka rela mengeluarkan Rp 1.000 atau Rp 2.000 dari kocek untuk selembar koran. Cari tahu siapa mereka dan menulislah untuk bisa mereka baca. Jika Anda bisa bilang “go to hell” ke mereka, Anda sendiri lah yang pertama-tama akan masuk ke neraka. Lalu, koran atau majalah, televisi atau radio Anda.

Membacalah setiap hari — tiga atau empat buku setiap kali dan semua jenis majalah. Bacalah sebanyak mungkin untuk menjadi penulis terbaik. Bacalah Shakespeare dan karya-karya sastra lain seperti Anda membaca Al-Quran atau Bible sepanjang hayat. Bacalah karya sastra klasik — untuk mengetahui bagaimana pikiran-pikiran besar masa silam mengekspresikan dirinya sendiri.

Suapi otak setiap hari, seperti Anda menyuapi perut. Petinju hebat tak bisa mengandalkan daging yang dimakannya 10 tahun lewat. Wartawan tak bisa menulis baik dengan pikiran 10 tahun silam. Jagalah agar otak tetap terbuka terhadap gagasan dan pikiran baru.

Jangan arogan dan bersikap menghakimi orang lain. Mereka yang tak setuju dengan Anda tidak selalu berarti tolol atau gila.

Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab: hidup di desa belum tentu damai; birokrat belum tentu korup; haji dan pendeta belum tentu alim; dan anak yang membunuh ibunya belum tentu durhaka. Gali lah fakta hingga ke dasar-dasarnya.

Jangan terpukau pada omongan pejabat, para pakar, tentara, dan polisi. Kutip mereka sedikit mungkin. Gali cerita dari lapangan. Berbicaralah dengan orang-orang di jalanan, di tempat peristiwa.

Teori Jurnalistik

Pendekatan Teoritis dan Pokok-pokok Pengertian Komunikasi Politik



Kajian komunikasi politik bersifat spesifik, karena materi bahasan terarah kepada topik tertentu yaitu politik dan aspek-aspek yang tercakup di dalamnya.

Secara filosofis kajian komunikasi politik adalah hakikat kehidupan manusia untuk mempertahankan hidup dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

Setiap negara akan selalu berorientasi kepada fungsi primer negara yaitu tujuan negara. Tujuan ini dapat dicapai apabila terwujud sifat-sifat integratif dari semua unsur penghuni negara.

Dalam kenyataan empiris pengaturan hak-hak berkomunikasi tidak dapat digeneralisasikan ke dalam satu pola sistem. Dalam kenyataan terdapat empat macam sistem komunikasi politik, yaitu: sistem otoriter, sistem liberal, sistem komunis dan konsep tanggung jawab sosial.

Pada dasarnya keempat sistem tersebut dapat dikualifikasikan ke dalam dua polar, yaitu: polar totaliter dan polar demokrasi.

Unsur-unsur komunikasi yang sangat menentukan berhasil tidaknya proses komunikasi yaitu unsur komunikator karena komunikator dapat mewarnai atau mengubah arah tujuan komunikasi.

Sumber komunikasi dapat berupa ideologi, paham, pola keyakinan, dapat pula berupa seperangkat norma-norma dan dokumen-dokumen yang tersimpan rapi. Atau dapat pula berasal dari kitab suci para pemeluk agama.
Objek Kajian Komunikasi Politik: Perilaku Penguasa, Pola Keyakinan dan Pendapat Umum (Public Opinion)

Sikap perilaku penguasa (elit berkuasa) memberi dampak cukup berarti terhadap lalu lintas transformasi pesan-pesan komunikasi baik yang berada dalam struktur formal, maupun yang berkembang dalam masyarakat.

Elit politik berada dalam struktur kekuasaan dan elit masyarakat. Sebagai elit berkuasa ia mampu mengendalikan dan menjalankan kontrol politik, sekaligus mengendalikan sumber-sumber komunikasi.

Kebesaran suatu bangsa bergantung kepada kemampuan rakyat, masyarakat umum, dan massa untuk menemukan simbol dalam orang pilihan, karena orang pilihlah yang mampu membimbing massa. Elit terdapat lima macam tipe, yaitu: elit kelas menengah, elit dinasti, elit kolonial, kaum intelek revolusioner dan pemimpin-pemimpin nasional.

Pada prinsipnya teori kepemimpinan meliputi empat macam teori, yaitu: Unitary traits theory, Constellation of traits theory, Situasional theory dan Interaction theory.

Setiap pemimpin dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi, membentuk sikap dan perilaku khalayak, masyarakat yang mendukung terhadap aktivitas kepemimpinannya.

Teori Komunikasi Politik



Teori Komunikasi Politik

Dalam komunikasi politik terdapat teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi politik, secara garis besar teori ini terbagi pada dua macam yaitu teori kepribadian dan diri politik.

Teori kepribadian dalam politik.
Jumlah teori tentang kepribadian sama banyaknya dengan jumlah defenisinya. Pada tulisan ini akan difokuskan pada beberapa saja diantaranya, tetapi lebih spesifik pada yang memberikan gambaran tentang belajar politik.


Tahap Penelitian Secara Umum



Tahap Penelitian Secara Umum

1. Tahap Pra-Lapangan

a. Menyusun Rancangan Penelitian

b. Memilih Lapangan Penelitian

Cara terbaik dalam menentukan Lapangan Penelitian adalah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif dan dengan mempelajari dan mendalami fokus serta rumusan masalah penelitian; untuk itu peneliti harus pergi kelapangan untuk melihat persesuaian dengan kenyataan dilapangan.
Sesuaikan kemampuan dengan keadaan geografis, waktu, biaya, dan tenaga, dalam penentuan tempat penelitian.

c. Menjajaki dan Menilai Lapangan

Perlu di ingat bahwa peneliti sudah harus mempelajari pustaka sebelum terjun kelapangan. Mempelajari segala unsur ; lingkungan sosial, fisik, dan keadaan alam dll.
Pengenalan dan penjajagan yang baik adalah bagaimana peneliti dapat menjadi bagian dari anggota kelompok/masyarakat yang diteliti-nya.

Hal ini dikenal dengan Invensi , Kirk dan Miller (1986:59-70) merumuskan tahap-tahap invensi dalam tiga aspek :

1. pemahaman atas petunjuk dan cara hidup
2. memahami pandangan hidup
3. penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan tempat penelitian

d. Memilih dan memanfaatkan Informan
e. Menyiapkan perlengkapan penelitian
f. Persiapan Etika Penelitian

Analisis dan Interpretasi Data



1. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan langkah-langkah penelitian naturalistik (spradley) maka analisis data dilaksanakan langsung dilapangan bersama-sama dengan pengumpulan data.
Empat tahap analisis data diselingi pengumpulan data yaitu :


Paradigma Kualitatif dan Kuantitatif



Paradigma Kualitatif dan Kuantitatif

Kualitatif berasal dari kata ’kualitas’ atau ’quality’ yang berarti mutu, sifat, ciri-ciri (Kamus Standar Lengkap Inggris-Indonesia; Dhanny R. Cyssco, penerbit Buana Ilmu Populer). Berarti, jika kita berbicara tentang kualitatif, berarti kita berbicara mengenai hal-hal yang bersifat mutu, ciri-ciri dan sifat sesuatu atau seseorang. Jika kita berbicara tentang sebuah meja, maka yang menjadi bahan pembicaraan adalah ciri-ciri, sifat dan mutu meja tersebut. Apakah dia terbuat dari bahan kayu biasa, bermodel biasa dengan kaki empat dan jangkung atau dari bahan kayu jati kelas satu bermodel akar pohon berkaki menjuntai di-varnish secara sempurna sehingga tampak berkilau dan mewah. Di sini kita tidak menyinggung berapa banyak meja yang menjadi bahan pembicaraan, karena setiap meja memiliki ciri-ciri, sifat dan mutu tersendiri. Meskipun secara sepintas tampak mirip, sehingga kita bisa mengatakan bahwa semua meja itu sama saja, namun jika diperhatikan lebih seksama, akan ditemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan dan deviasi karakter yang membuktikan bahwa setiap meja (meskipun dari bahan dan dibuat dengan cara yang sama) tak satu pun yang memiliki ciri-ciri, sifat dan mutu yang sama. Demikian pula jika kita berbicara mengenai manusia sebagai bahan pembicaraan atau kajian. Meskipun berasal dari latar belakang dan populasi yang sama, dipastikan bahwa tak satu pun yang memiliki sifat, ciri-ciri dan ’mutu’ yang sama.

Selasa, 29 Desember 2009

makna Jurnalistik

Jurnalisme adalah bidang disiplin dalam mengumpulkan, memastikan, melaporkan, dan menganalisis informasi yang dikumpulkan mengenai kejadian sekarang, termasuk tren, masalah, dan tokoh. Orang yang mempraktekkan kegiatan jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan.

Di Indonesia, istilah ini dulu dikenal dengan publisistik. Dua istilah ini tadinya biasa dipertukarkan, hanya berbeda asalnya. Beberapa kampus di Indonesia sempat menggunakannya karena berkiblat kepada Eropa. Seiring waktu, istilah jurnalistik muncul dari Amerika Serikat dan menggantikan publisistik dengan jurnalistik. Publisistik juga digunakan untuk membahas Ilmu Komunikasi.


Jurnalisme dapat dikatakan "coretan pertama dalam sejarah". Meskipun berita seringkali ditulis dalam batas waktu terakhir, tetapi biasanya disunting sebelum diterbitkan.

Jurnalis seringkali berinteraksi dengan sumber yang kadangkala melibatkan konfidensialitas. Banyak pemerintahan Barat menjamin kebebasan dalam pers.

Aktivitas utama dalam jurnalisme adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana (dalam bahasa Inggris dikenal dengan 5W+1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend. Jurnalisme meliputi beberapa media: koran, televisi, radio, majalah dan internet sebagai pendatang baru.


Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.

Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.

Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.

Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.

Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.

Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers